Musim F1 2026 baru saja menginjakkan kaki di garis start, namun awan gelap peperangan sudah menyelimuti sirkuit. Eskalasi konflik di Timur Tengah memaksa otoritas balap dunia menghadapi dilema besar: tetap melaju atau mengibarkan bendera merah (red flag) demi keselamatan nyawa.
Serangan balasan Iran yang menargetkan negara-negara Teluk telah memakan “korban” pertama. FIA secara resmi menunda balapan pembuka World Endurance Championship (WEC) di Qatar yang seharusnya digelar akhir Maret ini. Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, menegaskan bahwa nyawa personel dan penggemar tidak bisa ditawar.
Sakhir dalam Jangkauan Rudal
Kekhawatiran bukan tanpa alasan. Data dari Motorsport Magazine menyebutkan bahwa Bahrain telah mencegat sedikitnya 73 rudal dan 91 drone sejak operasi militer pecah pada 28 Februari.
Sirkuit Internasional Bahrain di Sakhir kini berada di zona sensitif—hanya berjarak 30 kilometer dari markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Dengan ancaman yang juga menyasar Riyadh, seri Arab Saudi pada 19 April mendatang kini berada di ujung tanduk. Tes ban Pirelli pun telah dibatalkan total, dengan personel yang dievakuasi secara darurat kembali ke Eropa.
Misi Penyelamatan Paddock: Terbang Memutar Dunia
Dampak konflik ini memicu kekacauan logistik yang luar biasa bagi kru yang menuju Melbourne. Karena hub transit utama seperti Dubai dan Doha ditutup, F1 harus menyewa pesawat charter khusus untuk menyelamatkan sekitar 400 staf paddock.
Mereka terpaksa menempuh rute “tak lazim” melintasi Tanzania hingga Singapura demi menghindari zona udara berbahaya. CEO GP Australia, Travis Auld, mencatat hampir 1.000 orang harus mengatur ulang penerbangan mereka dalam waktu singkat.
Ironisnya, krisis ini juga menjebak bintang dunia lainnya, seperti peraih medali Olimpiade PV Sindhu yang sempat tertahan di Dubai dalam suasana “tegang dan menakutkan”.
Mencari Suaka di Eropa
Jika situasi di Teluk tidak mereda dalam waktu dekat, F1 dilaporkan sudah menyiapkan “Rencana B”. Tiga sirkuit legendaris di Eropa kini masuk dalam radar sebagai venue pengganti:
-
Imola (Italia): Menjadi kandidat terkuat sebagai sirkuit cadangan utama.
-
Portimão (Portugal): Siap menampung logistik F1 dengan fasilitas Grade 1.
-
Paul Ricard (Prancis): Opsi alternatif untuk menjaga kelangsungan musim.
Sejarah mencatat F1 pernah membatalkan GP Bahrain pada 2011 akibat kerusuhan sipil. Jika merujuk pada peringatan Presiden AS Donald Trump bahwa operasi militer bisa berlangsung hingga lima minggu ke depan, maka nasib seri April akan ditentukan paling lambat akhir Maret ini.