JAKARTA – Awal musim Formula 1 2026 menjadi periode sulit bagi Red Bull. Data kualifikasi menunjukkan tim ini mencatat performa paling lambat dalam 11 tahun terakhir, dengan rata-rata tertinggal hampir satu detik dari waktu tercepat.
Dari tiga seri pertama, Red Bull hanya mengumpulkan 16 poin dan menempati posisi keenam klasemen konstruktor.
Dilansir dari Motorsport, Sabtu (11/4/2026), RB22, mobil terbaru mereka, tertinggal hingga 1,26 detik per lap dari Mercedes dalam balapan. Kondisi ini menempatkan Red Bull dalam persaingan langsung dengan Alpine dan Haas, sementara McLaren masih unggul sekitar empat persepuluh detik.
Situasi ini mengingatkan pada tahun 2015, ketika Red Bull terakhir kali mengalami kemunduran besar. Saat itu, Daniel Ricciardo dan Daniil Kvyat harus berjuang dengan selisih rata-rata 1,18 detik dari Mercedes. Butuh tujuh musim penuh sebelum Red Bull kembali dominan pada 2022.
Namun, kali ini masalah utama bukan pada mesin. Kecepatan puncak RB22 masih kompetitif, bahkan lebih baik dari Ferrari. Kelemahan justru muncul di tikungan, terutama di sektor teknis seperti di Cina dan Jepang. Filosofi desain yang terlalu fokus pada hambatan udara rendah membuat mobil kekurangan downforce.
Perbandingan dengan tim saudara Racing Bulls memperkuat analisis ini: meski menggunakan mesin sama, karakteristik performa keduanya berbeda signifikan.
Kesimpulannya, Red Bull menghadapi jalan panjang untuk kembali ke papan atas. Meski mungkin tidak selama masa transisi era hybrid 2014–2019, tim harus segera mengatasi masalah mendasar pada konsep mobil sebelum bisa realistis berharap kembali meraih kemenangan.