Gedung Putih merilis serangkaian foto yang memperlihatkan Presiden Donald Trump tengah memimpin langsung Operation Epic Fury, operasi militer gabungan terbesar AS dan Israel terhadap Iran. Alih-alih berada di Ruang Situasi Gedung Putih yang ikonik, Trump mengarahkan serangan udara masif tersebut dari pusat komando yang disusun tergesa-gesa di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida.
Dalam foto-foto resmi yang diunggah ke akun X (sebelumnya Twitter) milik Gedung Putih, Trump tampak mengenakan topi bisbol putih bertuliskan “USA”. Ia duduk dikelilingi orang-orang kepercayaannya, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur CIA John Ratcliffe, di depan sebuah papan poster besar bertuliskan peta wilayah operasi.
Komando Terbelah: Florida dan Washington
Selama operasi berlangsung, terjadi pembagian komando yang unik. Sementara Trump berada di Florida, Wakil Presiden JD Vance memantau jalannya serangan dari Situation Room yang sesungguhnya di Washington D.C., didampingi oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard. Keduanya terhubung melalui panggilan konferensi jarak jauh saat bom-bom mulai dijatuhkan di wilayah Teheran.
Beberapa jam sebelum serangan dimulai, Trump sempat menghadiri acara penggalangan dana di resornya. Ia bahkan terekam berdansa mengikuti lagu “God Bless the USA” sebelum berpamitan kepada para tamu dengan kalimat singkat: “Kita harus bekerja. Saya harus bekerja!”
“War Room” Mar-a-Lago Menuai Sorotan
Keputusan Trump untuk memimpin operasi militer dari sebuah ruangan berhiaskan tirai hitam di resor mewah memicu kritik tajam. Para ahli keamanan dan netizen mempertanyakan standar keamanan ruangan tersebut dibandingkan dengan fasilitas SCIF (Sensitive Compartmented Information Facilities) yang dirancang khusus untuk komunikasi rahasia negara.
“Menyebutnya ‘Situation Room Mar-a-Lago’ tidak mengubah benteng selimut itu menjadi SCIF,” kritik Joyce Vance, profesor hukum dari University of Alabama. Ejekan juga datang dari koresponden Gedung Putih, S.V. Dáte, yang menyebut nama operasi tersebut terdengar seperti judul video gim.
Hasil Operasi yang Mengguncang Dunia
Di balik kontroversi lokasi komando, dampak Operation Epic Fury—yang oleh Israel diberi sandi Roaring Lion—sangatlah mematikan. Serangan udara ini menargetkan infrastruktur militer dan pusat kepemimpinan rezim Iran.
Pihak Israel mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya terluka.
Melalui platform Truth Social, Trump menyebut operasi ini sebagai serangan “masif yang masih berlangsung” dan dengan tegas mendesak Garda Revolusi Iran untuk menyerah tanpa syarat.