Harapan untuk mengakhiri “Operasi Epic Fury” tampaknya sirna. Wakil Presiden J.D. Vance mengonfirmasi bahwa Iran menolak proposal Washington, membuat gencatan senjata rapuh yang ditengahi Pakistan kini berada di ambang kehancuran. Namun, dampak nyata dari kegagalan ini tidak hanya dirasakan di Teheran, melainkan hingga ke Tokyo dan Taipei.
Perang yang dimulai sejak 28 Februari lalu ini telah memaksa Presiden Trump menunda pertemuan puncaknya dengan Presiden China Xi Jinping hingga Mei mendatang. Lebih dari sekadar penundaan jadwal, perang ini sedang menguras “otot” militer Amerika di Asia.
Eksodus Militer: Dari Pasifik ke Teluk
Laporan intelijen mengungkap pergerakan aset militer besar-besaran yang meninggalkan kawasan Asia-Pasifik:
-
Marinir Elit: Sebanyak 2.500 Marinir dari Okinawa, yang seharusnya bersiaga untuk operasi kepulauan Pasifik, kini dialihkan ke Timur Tengah.
-
Kekuatan Laut: Kapal amfibi USS Tripoli telah meninggalkan pangkalan di Jepang menuju Teluk.
-
Perisai Udara: Sebagian sistem pertahanan anti-misil THAAD di Korea Selatan—benteng utama menghadapi Korea Utara—justru ditarik untuk memperkuat pertahanan di Iran.
Kurt Campbell, mantan pejabat tinggi era Biden, memperingatkan dengan tajam bahwa strategi “Poros ke Asia” yang selama ini dibangun kini justru berjalan mundur. “Kemampuan militer yang dibangun dengan sabar di Asia ditarik begitu saja dalam semalam,” tulisnya.
Angin Segar bagi Beijing?
Di saat fokus taktis Amerika terdistraksi oleh ledakan di Timur Tengah, China terus memperkuat pengaruhnya di kawasan regional. Para analis di Taipei dan Tokyo mulai cemas bahwa Amerika Serikat kembali terjebak dalam pola lama: berjanji fokus ke Asia, namun selalu terseret kembali ke konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Pertemuan puncak Mei nanti diperkirakan akan menjadi medan tempur diplomatik yang sulit bagi Trump. Tanpa dukungan militer yang solid di Pasifik, posisi tawar AS terhadap isu Taiwan dan perdagangan dengan China dikhawatirkan akan melemah.