JAKARTA – India dihebohkan oleh kemunculan virus Nipah yang mematikan. Saat ini, hampir 100 orang dilaporkan menjalani karantina, sementara lima orang lain terkonfirmasi terpapar virus tersebut.
Tidak hanya di India, virus Nipah juga terdeteksi di negara tetangga, Thailand. Kondisi ini mendorong pemerintah Thailand untuk memperketat pemeriksaan kesehatan di sejumlah bandara.
Lantas, apa itu virus Nipah dan mengapa virus ini dianggap sangat berbahaya hingga perlu diwaspadai? Berikut penjelasannya.
Sejarah Virus Nipah
Virus Nipah pertama kali ditemukan pada periode 1998–1999 di kawasan Sungai Nipah, Malaysia, tepatnya pada peternakan babi. Virus ini pernah menyebabkan wabah yang menyebar ke sejumlah negara, seperti India, Bangladesh, dan Filipina. Hingga kini, Bangladesh tercatat sebagai negara dengan angka kematian tertinggi akibat infeksi virus Nipah.
Virus ini tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan manusia atau hewan yang telah terinfeksi.
Gejala Virus Nipah yang Membahayakan
Dalam 14 hari pertama setelah terinfeksi, sejumlah gejala dapat mulai muncul. Gejala tersebut antara lain muntah, sesak napas, diare, sakit tenggorokan, nyeri otot, batuk, sakit kepala, dan demam. Gejala-gejala ini kerap menyerupai infeksi Covid-19 yang mewabah beberapa tahun lalu.
Apabila infeksi berlanjut lebih dari 14 hari, kondisi penderita dapat memburuk. Gejala berat yang dapat muncul meliputi kantuk berlebihan, kebingungan terhadap waktu dan tempat, sulit berkonsentrasi, kejang, hingga koma.
Indonesia Harus Waspada
Meski hingga kini belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi kasus virus Nipah di Indonesia, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Mengutip DetikHealth, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mendorong pemerintah Indonesia untuk memperketat kewaspadaan serta melakukan skrining terhadap pelaku perjalanan dari India, seiring kembali munculnya kasus virus Nipah di negara tersebut.
Menurutnya, langkah ini menjadi krusial mengingat tingginya jumlah kunjungan warga India ke Indonesia, termasuk dari wilayah yang saat ini terdampak, seperti Kalkuta dan negara bagian West Bengal.
