LAMPUNG – Gerakan Cinta Prabowo (GCP) memberikan apresiasi tinggi atas respons cepat Gubernur Lampung yang siap menanggung sisa biaya perawatan DA (11), bocah korban penganiayaan berat oleh ODGJ di Pekon Way Ngison, Pringsewu.
Ketua Umum GCP, H. Kurniawan atau Bang Iwan, menyatakan bahwa perhatian langsung gubernur telah meringankan beban ekonomi keluarga korban yang sempat terancam kritis meski kondisi medis DA sudah stabil.
“Alhamdulillah, setelah saya berkomunikasi langsung dengan Bapak Gubernur Lampung, beliau memberikan respons yang sangat luar biasa dan menginformasikan bahwa kekurangan biaya tersebut akan segera diselesaikan oleh pihak Pemerintah Provinsi,” ujar Bang Iwan, Jumat (27/3/2026)
Total biaya perawatan DA di RSUD Ahmad Yani Metro mencapai Rp67.617.572. Berkat donasi masyarakat, telah terkumpul Rp52.371.052, sehingga masih tersisa Rp15.246.520 yang semula harus ditanggung keluarga paling lambat 9 April 2026.
Bang Iwan menegaskan apresiasi ini bukan hanya untuk Gubernur, melainkan juga sebagai bentuk syukur atas kerja bersama. Ia mengakui langkah awal yang cepat dari BAZNAS Pringsewu dan istri Bupati Pringsewu sejak korban dirawat.
“Perjuangan ini adalah kerja bersama. Kami di GCP hanya memastikan bahwa tidak ada warga yang terabaikan keselamatannya. Kami sangat berterima kasih atas atensi langsung Bapak Gubernur Lampung yang menunjukkan bahwa pemerintah hadir di tengah kesulitan rakyatnya,” katanya.
Meski masalah biaya telah terselesaikan, GCP tetap mendesak pemerintah daerah untuk tidak berhenti di situ. Bang Iwan menekankan pentingnya pendampingan trauma healing bagi DA serta penanganan tegas terhadap ODGJ berbahaya di wilayah tersebut.
“Luka fisik mungkin mengering, namun trauma psikologis akibat serangan tersebut memerlukan pemulihan jangka panjang. Selain itu, kami mendesak penanganan ODGJ berbahaya di wilayah perbatasan Pekon Way Ngison segera dituntaskan agar lingkungan kembali kondusif dan anak-anak bisa bermain dengan aman,” tegas Iwan.
Ia juga menjadikan kasus ini sebagai pengingat penting bagi sistem pengawasan sosial di tingkat desa. Menurutnya, kepulangan DA bukan akhir perjuangan, melainkan momentum untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Kepulangan Dimas bukan akhir, tapi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan. GCP akan terus mengawal hingga masalah ini benar-benar tuntas, baik secara administratif maupun keamanan di lapangan,” tutup Bang Iwan.
Respons positif Gubernur Lampung ini diharapkan menjadi contoh nyata kehadiran pemerintah dalam menangani kasus kemanusiaan di tengah masyarakat.