JAKARTA – Fenomena alam langka akan menghiasi langit pada 17 Februari 2026, ketika gerhana matahari cincin dapat disaksikan di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Mengutip keterangan dari Time and Date, gerhana ini terjadi saat Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu garis lurus. Namun, karena posisi Bulan cukup jaruh dair Bumi, piringannya tampak lebih kecil dibandingan Matahari.
Pada fase puncak, Bulan tidak menutupi Matahari sepenuhnya. Bagian tepi Matahari tetap terlihat mengelilingi Bulan, membentuk fenomena khas yang dikenal sebagai “cincin api” atau annulus.
Gerhana matahari cincin hanya dapat diamati dari wilayah yang dilewati bayangan Bulan. Semakin dekat lokasi pengamatan dengan pusat jalur bayangan, semakin jelas pula fenomena cincin api yang tampak. Istilah annular sendiri berasal dari bahasa Latin annulus yang berarti cincin. Fase maksimum cincin api berlangsung singkat—bahkan bisa kurang dari satu detik di beberapa lokasi—namun tetap diklasifikasikan sebagai gerhana matahari cincin.
Gerhana Matahari Total
Fenomena ini berbeda dengan gerhana matahari total. Pada gerhana total, Bulan berada cukup dekat dengan Bumi sehingga menutupi Matahari sepenuhnya. Sementara itu, pada gerhana cincin, Bulan berada di titik terjauh (apogee) sehingga hanya menutupi bagian tengah Matahari dan menyisakan tepi terang berbentuk cincin.
Gerhana matahari cincin berlangsung melalui lima tahapan: mulai dari kontak pertama ketika Matahari tampak “tergigit”, hingga kontak keempat saat Bulan sepenuhnya bergeser dan gerhana berakhir.
Di Indonesia, gerhana akan dimulai pada pukul 16.56 WIB dan mencapai puncaknya sekitar 19.12 WIB. Secara keseluruhan, fenomena ini dapat berlangsung lebih dari enam jam, meski tidak di satu lokasi yang sama. Fase cincin api di titik pengamatan tertentu bisa berlangsung dari kurang dari satu detik hingga lebih dari 12 menit.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus. “Paparan sinar Matahari dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata hingga berisiko menimbulkan kebutaan,” tegas BMKG. Cara aman untuk menyaksikan gerhana adalah menggunakan kacamata khusus atau proyektor lubang jarum (pinhole projector).
