AMBON — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa Pela Gandong menjadi modal sosial paling kuat untuk menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Maluku yang hidup dalam kemajemukan suku, agama, dan budaya.
Dalam kondisi sosial terkini Maluku yang terus membangun harmoni pascaberbagai dinamika kebangsaan, nilai Pela Gandong dinilai tetap relevan sebagai fondasi persaudaraan dan stabilitas sosial.
Gubernur Hendrik Lewerissa menyampaikan bahwa semangat hidup orang basudara telah lama mengakar dan menjadi perekat sosial masyarakat Maluku dalam merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
“Nilai Pela Gandong bukan sekadar warisan budaya, tetapi modal sosial yang harus terus dirawat dan diaktualisasikan untuk memperkuat toleransi dan mencegah konflik sosial,” ungkap Hendrik, Sabtu (17/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Maluku saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di Kota Ambon dalam agenda penguatan toleransi lintas iman.
Ia menjelaskan bahwa Pela Gandong merupakan ikatan persaudaraan antarnegeri yang disepakati para leluhur dan diwariskan lintas generasi sebagai komitmen saling menjaga tanpa memandang perbedaan keyakinan dan latar belakang sosial.
Dalam filosofi Pela Gandong, setiap warga Maluku diposisikan sebagai orang basudara yang terikat secara moral untuk menjunjung perdamaian, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif.
Prinsip tersebut mengajarkan bahwa ketika satu negeri menghadapi kesulitan, negeri pela atau gandong berkewajiban hadir memberi pertolongan sebagai wujud persaudaraan sejati.
Di tengah masyarakat Maluku yang plural, Pela Gandong terbukti efektif sebagai modal sosial untuk merawat toleransi sekaligus mencegah konflik berbasis identitas.
Gubernur Maluku menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan dialog intensif antarumat beragama guna mencegah salah persepsi yang berpotensi memicu gesekan sosial.
“Pemerintah Provinsi Maluku juga menggencarkan temu tokoh lintas agama sebagai wadah strategis membangun rasa saling percaya serta menjaga stabilitas sosial daerah,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa tokoh agama memiliki peran sentral sebagai pilar perdamaian dan teladan persaudaraan bagi generasi muda Maluku.
Melalui forum lintas iman tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku berharap lahir gagasan konstruktif untuk memperkuat toleransi, melakukan deteksi dini konflik, dan membangun kehidupan beragama yang inklusif serta harmonis.***