Gunung berapi Hayli Gubbi di Ethiopia meletus untuk pertama kalinya dalam sejarah tercatat pada Minggu (23/11), mengirimkan kolom abu raksasa yang menjulang tinggi dan terbawa angin melintasi Laut Merah menuju Yaman dan Oman. Meski spektakuler, letusan ini tidak menimbulkan kerusakan berarti karena gunung tersebut berada di wilayah gurun Afar yang sangat terpencil.
Toulouse Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) melaporkan bahwa letusan eksplosif dimulai sekitar pukul 08.30 UTC. Citra satelit menunjukkan kolom abu yang berkembang cepat, mencapai ketinggian 10–15 kilometer atau sekitar 45.000 kaki sebelum bergerak ke arah timur melewati Laut Merah.
Dampak Minimal Berkat Lokasi Terpencil
Hayli Gubbi berada di Cekungan Danakil, salah satu kawasan terpanas dan paling terisolasi di dunia. Kondisi ini membuat dampak letusan relatif kecil. Meski terdapat laporan hujan abu dan gangguan pernapasan di komunitas terdekat, tidak ada laporan cedera maupun kerusakan berarti.
Otoritas Lingkungan Oman mengeluarkan peringatan terkait potensi penurunan kualitas udara, namun hingga Senin belum ada peningkatan polutan di stasiun pemantauan. Otoritas penerbangan di Timur Tengah juga terus melacak pergerakan abu vulkanik yang diperkirakan dapat mencapai Pakistan hingga India bagian utara di lapisan atmosfer atas.
Beberapa jam sebelum erupsi, gempa magnitudo 4,7 tercatat di dekat gunung berapi Borawli, diduga menjadi tanda pergerakan magma bawah tanah. Profesor Simon Carn, vulkanolog dari Michigan Tech, mengonfirmasi letusan ini melalui citra satelit dan mencatat pelepasan besar sulfur dioksida—indikator penting aktivitas vulkanik eksplosif.
Letusan Bersejarah Setelah Ribuan Tahun Tidur
Hayli Gubbi terletak di ujung selatan Rangkaian Erta Ale, dalam wilayah Rekahan Afar—bagian dari Sistem Rekahan Afrika Timur yang dikenal sebagai salah satu zona vulkanik paling aktif di dunia. Gunung berapi ini tidak menunjukkan tanda-tanda erupsi selama seluruh periode Holosen, yaitu sekitar 11.700 tahun terakhir.
VAAC menyampaikan bahwa aktivitas eksplosif mereda pada Minggu malam, namun awan abu masih terus bergerak ke arah timur laut. Karena kondisi lingkungan yang ekstrem, para ilmuwan memantau aktivitas gunung berapi ini dari jarak jauh.
Letusan langka ini memberi para peneliti kesempatan unik untuk mempelajari gunung berapi yang kembali aktif setelah ribuan tahun tertidur di salah satu kawasan vulkanik paling sulit dijangkau di Bumi.