Kabar duka menyelimuti TPST Bantar Gebang. Gunungan sampah di Zona 4 Kota Bekasi dilaporkan longsor secara mendadak pada Minggu sore. Insiden maut ini menelan korban jiwa setelah material sampah yang menjulang tinggi runtuh dan menimbun para pekerja di bawahnya.
Tercatat, seorang sopir truk sampah dan dua orang pemulung dilaporkan meninggal dunia setelah terjebak di bawah ribuan ton material sampah yang ambruk saat mereka sedang beraktivitas.
Kronologi: Antrean yang Berujung Maut
Peristiwa tragis ini bermula saat sejumlah truk sedang mengantre untuk membuang muatan di zona pembuangan aktif. Tanpa peringatan, tumpukan sampah yang tidak stabil tersebut longsor dan menyapu apa pun yang ada di jalurnya, termasuk kendaraan yang sedang menunggu giliran.
Saking kuatnya dorongan longsoran tersebut, beberapa truk terseret hingga masuk ke saluran air Kali Ciketing yang berada di sekitar lokasi.
Kondisi Kritis yang Terabaikan
Seorang warga setempat bernama Bagong menyebutkan bahwa TPST Bantar Gebang sebenarnya sudah dalam kondisi memprihatinkan. Metode open dumping atau penumpukan terbuka yang selama ini digunakan dinilai menjadi penyebab utama gunungan sampah menjadi sangat labil.
“Kondisinya sudah kritis. Sampah hanya ditumpuk begitu saja tanpa pengolahan yang tepat, jadi sangat rawan longsor. Kalau tertimbun sampah 10 menit saja sudah berbahaya karena gas metana, apalagi ini para korban tertimbun lebih dari satu jam,” ujar Bagong dengan nada getir.
Warga mengungkapkan bahwa petaka ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Beberapa bulan lalu, insiden serupa sempat menyeret tiga unit truk ke saluran air, meski saat itu tidak ada korban jiwa. Namun, kali ini alam seolah memberikan peringatan keras dengan jatuhnya korban nyawa.
Saat ini, proses evakuasi berlangsung cukup sulit karena posisi kendaraan yang terseret berada di area yang cukup dalam dan tertutup material sampah yang sangat tebal. Warga kini dihantui kekhawatiran bahwa hujan deras yang kerap mengguyur Bekasi akan memicu longsor susulan yang jauh lebih besar.