GAZA — Kelompok Hamas pada Kamis (30/10/2025) mengumumkan bahwa mereka akan menyerahkan jenazah dua sandera Israel pada malam harinya sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang tengah berlaku.
Seperti dilansir dilansir dari Anadolu, Jumat (31/10/2025), sayap bersenjata Hamas, Brigade al-Qassam, dalam pernyataannya di Telegram menyebutkan bahwa pemindahan jenazah akan dilakukan pada pukul 4 sore waktu setempat (1400GMT).
Sebelumnya, lembaga penyiaran publik Israel KAN melaporkan bahwa otoritas Israel tengah mempersiapkan proses penerimaan dua jenazah tersebut dalam beberapa jam mendatang.
Rencana serah terima ini dilakukan dua hari setelah serangan udara Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, meskipun saat ini masih berlaku gencatan senjata.
Pemerintah Tel Aviv mengklaim serangan itu merupakan respons atas penembakan yang menewaskan seorang tentara Israel di Rafah. Namun, Hamas membantah keterlibatan dalam serangan tersebut dan menegaskan kembali komitmennya untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Sejauh ini, Hamas telah membebaskan 20 tawanan Israel hidup-hidup serta menyerahkan jenazah 17 dari 28 tawanan, sebagian besar warga Israel, dalam tahap pertama kesepakatan. Pihak Tel Aviv mengklaim bahwa salah satu jenazah yang diserahkan bukan milik sandera mereka.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 merupakan bagian dari rencana 20 poin yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Tahap awal kesepakatan tersebut mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina, serta langkah-langkah pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.
Sejak konflik kembali memanas pada Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 68.500 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 170.600 lainnya.