GAZA, PALESTINA – Hamas membebaskan tiga sandera Israel dan lima warga Thailand di Gaza. Pembebasan sempat terlambat karena kerumunan, namun akhirnya sandera diserahkan kepada Palang Merah di Khan Younis, selatan Gaza.
Meski demikian, Israel masih memiliki 82 sandera yang ditahan di Gaza, dengan sekitar 30 di antaranya dinyatakan meninggal dunia secara in absentia.
Israel Bebaskan 110 Tahanan Palestina di Ramallah
Sementara itu, pada hari berikutnya, Jumat (31/1/2025), Israel membebaskan 110 tahanan Palestina yang telah lama ditahan, sebagai bagian dari kesepakatan bertahap dalam rangka meredakan ketegangan. Tahanan yang dibebaskan diangkut dengan bus menuju kota Ramallah, Tepi Barat, di mana mereka disambut oleh sorak sorai dan dukungan dari warga Palestina yang hadir di sana.
Salah satu nama paling terkemuka yang dibebaskan adalah Zakaria Zubaidi, pemimpin Brigade Martir Al-Aqsa, sayap bersenjata kelompok Fatah. Zubaidi sebelumnya melarikan diri dari penjara pada 2021 bersama tiga narapidana lainnya, namun akhirnya ditangkap kembali. Di Tepi Barat, Zubaidi dikenal sebagai tokoh penting dalam perlawanan terhadap pendudukan Israel, terutama di Kota Jenin.
Setelah dibebaskan, Zubaidi menyatakan, “Alhamdulillah, Tuhan memberkati saya dengan pembebasan hari ini. Semoga arwah para martir Gaza beristirahat dengan tenang.” Ketika ditanya mengenai laporan bahwa Israel tidak mengizinkannya kembali ke kamp pengungsi Jenin, Zubaidi menjawab tegas, “Naga adalah pemilik tanah dan pemburu harus pergi,” merujuk pada julukan yang diberikan kepadanya di Jenin.
Agresi Militer Israel Terus Memburuk
Sementara itu, agresi militer Israel di Gaza selama 15 bulan terakhir telah menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina. Serangan yang dianggap oleh banyak pihak sebagai bentuk genosida tersebut telah menghancurkan wilayah Gaza yang memiliki populasi 2,3 juta jiwa. Warga Gaza menghadapi kekurangan pangan, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah.
Ratusan ribu warga Gaza, sebagian besar mengungsi berulang kali, kini mulai kembali ke tempat-tempat yang terkena pertempuran sengit, terutama di utara Gaza. Banyak di antaranya mendapati rumah mereka hancur dan tidak layak huni, sementara kebutuhan dasar semakin terbatas.
Meski pembebasan sandera dan tahanan Palestina ini memberikan sedikit harapan untuk perbaikan situasi, ketegangan di wilayah Gaza dan Tepi Barat masih sangat tinggi. Pembebasan ini menjadi simbol dari dinamika konflik yang terus berkembang, di mana setiap langkah menuju perdamaian tampaknya masih harus melewati banyak hambatan.