JAKARTA – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menanjak tajam pada perdagangan Jumat (20/2/2026) pagi, menembus level tertinggi sepanjang sejarah di Rp2.944.000 per gram.
Kenaikan sebesar Rp28.000 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp2.916.000 per gram ini mencerminkan tren positif logam mulia di tengah sentimen global yang masih panas.
Setali tiga uang, harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga ikut terkerek ke kisaran Rp2.725.000 per gram.
Nilai tersebut menunjukkan permintaan kuat di pasar domestik, terutama di tengah pelemahan nilai tukar dan volatilitas harga minyak dunia.
Kenaikan harga emas kali ini menjadi lanjutan tren positif yang sudah terbentuk sejak pertengahan Januari lalu.
Berdasarkan data Logam Mulia Antam, lonjakan harga emas sejak 10 Januari mencapai rekor akumulatif lebih dari Rp200.000 per gram.
Transaksi jual-beli emas Antam masih tunduk pada regulasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, di mana setiap transaksi penjualan emas batangan akan dikenakan pemotongan pajak sesuai ketentuan yang berlaku untuk pembeli dan penjual dengan ataupun tanpa Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Untuk pembelian emas, PPh 22 dikenakan sebesar 0,45 persen bagi pemilik NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP, lengkap dengan bukti potong pajak yang disertakan dalam setiap transaksi.
Sedangkan untuk transaksi buyback senilai di atas Rp10 juta, pajak yang dipotong mencapai 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan 3 persen bagi non-NPWP.
Berdasarkan pembaruan terbaru laman resmi Logam Mulia Antam, berikut rincian harga emas hari ini berdasarkan pecahan:
- 0,5 gram: Rp1.522.000
- 1 gram: Rp2.944.000
- 2 gram: Rp5.828.000
- 3 gram: Rp8.717.000
- 5 gram: Rp14.495.000
- 10 gram: Rp28.935.000
- 25 gram: Rp72.212.000
- 50 gram: Rp144.345.000
- 100 gram: Rp288.612.000
- 250 gram: Rp721.265.000
- 500 gram: Rp1.442.320.000
- 1.000 gram (1 kg): Rp2.884.600.000
Kenaikan harga yang konsisten ini memperkuat posisi emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) paling aman di tengah situasi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian.
Para analis memprediksi harga akan tetap stabil tinggi apabila inflasi Amerika Serikat tidak segera terkendali dan suku bunga The Fed masih tertahan.***