Antusiasme penggemar terhadap Together, Together Tour milik Harry Styles berubah menjadi kemarahan setelah penjualan tiket presale mengungkap harga yang dinilai “gila” dan “serakah.” Tiket non-VIP di Madison Square Garden, New York, dilaporkan mencapai US$1.179,40 (sekitar Rp19,7 juta), sementara harga di Wembley Stadium, London, melonjak hingga £725,45 (sekitar Rp16,7 juta) untuk paket premium.
Gelombang protes mencuat sejak presale American Express dibuka pada Senin, 26 Januari 2026, yang menjadi kesempatan pertama bagi penggemar melihat banderol resmi tur perdana Styles dalam hampir tiga tahun.
Kemarahan kembali membesar pada Selasa, ketika presale tambahan dibuka menyusul penambahan jadwal konser di Wembley.
Fans Ancam Boikot
Tangkapan layar yang beredar luas di media sosial memperlihatkan tiket standing floor di Wembley dijual hingga £725,45, sementara kursi lower bowl di Madison Square Garden tercantum mendekati US$1.000, meski bukan bagian dari paket VIP.
Perbandingan dengan tur sebelumnya memperkuat kemarahan fans. Pada konser Wembley tahun 2022, harga tiket Harry Styles dilaporkan mulai dari £45 dan maksimal £99. Sementara residensi Madison Square Garden pada tahun yang sama dibanderol di kisaran US$39,50 hingga US$199,50.
“Aku cinta Harry, tapi harga tur ini benar-benar keterlaluan. Rasanya seperti memanfaatkan orang biasa yang hanya ingin menonton konsernya,” tulis seorang penggemar di X. Pengguna lain menambahkan, “Harga tiket Harry bikin aku benar-benar muak. Ini nggak masuk akal.”
Reaksi juga datang dari sesama musisi. Vokalis Oasis, Liam Gallagher, ikut menyindir dengan menulis singkat, “BERAPA BANYAK,” di X saat kegaduhan presale berlangsung. Ketika seorang pengguna mengaitkannya dengan kritik harga tiket tur reuni Oasis tahun lalu, Gallagher menimpali dengan nada bercanda, “Kalau dipikir-pikir sekarang, harganya jadi kelihatan masuk akal.”
Sorotan pada Industri Musik Live
Kontroversi ini mencerminkan kekecewaan yang lebih luas terhadap industri musik live global. Penggemar sejumlah artis papan atas seperti Olivia Rodrigo, Sabrina Carpenter, hingga Green Day juga mengeluhkan lonjakan harga tiket yang semakin tak terjangkau.
CEO Live Nation, Michael Rapino, bahkan sempat menyatakan tahun lalu bahwa harga tiket konser masih “terlalu murah,” dengan membandingkannya secara tidak menguntungkan dengan harga kursi courtside pertandingan basket—pernyataan yang semakin memicu kritik dari penggemar.
Sasaran utama kecaman publik kembali tertuju pada praktik “Platinum” atau “Dynamic Pricing”, sistem penyesuaian harga berdasarkan permintaan. Ticketmaster menegaskan harga tiket seharusnya tidak berubah selama presale maupun penjualan umum, meski sejumlah penggemar mengaku melihat harga yang terus berfluktuasi saat proses pembelian.