Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, telah menjadi fenomena viral yang unik. Awalnya menjadi bahan ejekan di media sosial karena bentuknya yang dianggap aneh dan tidak proporsional—sering dibandingkan dengan kuda nil atau binatang lain—kini patung ini justru mengangkat nama desa dan menghidupkan perekonomian setempat.
Patung Macan Putih dibangun dengan biaya Rp 3,5 juta, yang berasal dari sumbangan warga desa, bukan dana desa resmi. Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan bahwa patung ini dibuat untuk menjadi ikon desa, terinspirasi dari legenda macan putih yang berkembang di masyarakat setempat.
Namun, saat pertama kali diresmikan pada akhir 2025, bentuknya yang gemoy dan tidak sesuai ekspektasi langsung menjadi viral di TikTok, Instagram, dan X, dengan netizen membullynya sebagai “macan gagal” atau “mirip kuda nil”. Bahkan, ada rencana untuk membongkarnya karena kritik pedas.
Alih-alih dibongkar, popularitas viral tersebut justru membawa berkah. Patung ini kini menjadi spot selfie dan wisata gratis yang menarik ribuan pengunjung setiap hari, termasuk wisatawan dari luar Kediri. Dampak ekonominya signifikan: jumlah pedagang kaki lima di sekitar patung meningkat drastis, menjual makanan, minuman, dan souvenir.
Warga desa melaporkan peningkatan pendapatan dari parkir, jasa foto, hingga penjualan produk lokal. Bahkan, patung ini ditawar hingga Rp 180 juta oleh kolektor seni yang tertarik dengan nilai viralnya.
Fenomena ini juga memicu efek FOMO (fear of missing out) di kalangan netizen, di mana banyak orang datang hanya untuk melihat dan berfoto dengan patung yang “lucu” ini.
Pemerintah desa kini berencana mengembangkan area sekitar patung menjadi destinasi wisata lebih terstruktur, dengan harapan terus mendongkrak ekonomi lokal.
Kisah patung Macan Putih membuktikan pepatah “di balik musibah ada hikmah”, di mana ejekan awal berubah menjadi peluang emas bagi Desa Balongjeruk.