JAKARTA – Publik di Tanah Air heboh di berbagai platform media sosial karena nilai tukar rupiah di Google Finance tiba-tiba menguat tajam ke level Rp8.170 per dolar AS.
Pertanyaan ‘1 dolar berapa rupiah’ pun menjadi Google Trending, termasuk di platform Twitter dan TikTok.
Berdasarkan data Yahoo Finance,Kurs rupiah terakhir menyentuh Rp8.000-an per dolar AS pada 20 tahun lalu atau tepatnya kuartal pertama 2004 berada di kisaran Rp8.200-Rp8.700 per dolar AS.
Padahal pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (31/01/2025), rupiah berada di level Rp16.304 per dolar AS, melemah 0,30 persen dari penutupan hari sebelumnya.
Anehnya, level rupiah yang berada di Rp8.000 an ini hanya terjadi situs Google, sementara situs resmi terpercaya lainnya, seperti Bloomberg, Yahoo Finance masih menampilkan data normal.
Kemudian data error Google Finance yang terjadi hanya terjadi pada nilai tukar rupiah. Termasuk yang terakhir nilai tukar rupiah atas EURO juga di level Rp8.348,50, kurs normalnya di level Rp16.923 per EURO.
Menanggapi kehebohan tersebut, otoritas keuangan Indonesia sudah memberikan pernyataan resminya.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa nilai tukar Rp8.170 per dolar AS yang ditampilkan oleh Google bukanlah angka yang akurat.
Dilansir dari Antara, menurut Ramdan, BI sedang berkoordinasi dengan pihak Google Indonesia untuk mengatasi ketidaksesuaian tersebut dan melakukan koreksi yang diperlukan.
Kesalahan tampilan nilai tukar ini diduga berasal dari sistem Google yang mengalami error, sehingga menampilkan informasi yang tidak sesuai dengan kondisi pasar sebenarnya.
BI menegaskan bahwa nilai tukar resmi yang berlaku tetap mengacu pada data yang mereka rilis.
Penyanggahan Google
Pihak Google belum memberikan komentar resmi terkait kehebohan tersebut. Bahkan hingga Sabtu malam, saat artikel ini ditulis posisi rupiah masih di level Rp8.170 per dolar AS.
Meski demikian melansir dari keterangan Google, terkait pernyataan penyangkalan semua data yang ditampilkan bahwa soal konversi mata uang tidak dapat menjamin akurasinya.
“Google tidak dapat menjamin akurasi nilai tukar yang ditampilkan. Anda harus mengonfirmasi nilai saat ini sebelum melakukan transaksi apa pun yang dapat terpengaruh oleh perubahan dalam nilai tukar,” demikian isi pernyataan tersebut.
Lebih lanjut dijelaskan juga bahwa Google Finance memberikan cara mudah untuk menelusuri data sekuritas keuangan (saham, reksa dana, indeks). Lalu tarif bursa mata uang, dan mata uang kripto (‘Data Keuangan’).
Kemudian dilanjutkan bahwa data keuangan dikumpulkan dari berbagai feed dan penyedia data ke dalam suatu format terpadu yang tersedia untuk dilihat pengguna.
Google Finance memberi peringkat saran penelusuran berdasarkan tiga elemen utama: Pencocokan persis dengan kueri, tayangan Google Penelusuran, dan tayangan Google Finance.
Pencocokan persis dengan kueri memiliki nilai penting yang lebih tinggi, diikuti dengan tayangan Google Penelusuran dan Google Finance yang memiliki nilai penting setara.
Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa harga mata uang dan mata uang kripto disediakan oleh Morningstar.***