JAKARTA – Hilirisasi menjadi strategi Utama pemerintah Indonesia untuk meraih keunggulan. Proses mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi ini bukan hanya sekadar wacana, melainkan langkah nyata yang telah mengubah peta ekonomi Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, hilirisasi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi negara.
Hilirisasi: Transformasi Ekonomi Indonesia
Hilirisasi, atau proses pengolahan bahan baku menjadi barang jadi, telah menjadi fokus utama pemerintah Indonesia. Kebijakan ini dimulai sejak 2020, ketika Presiden Joko Widodo melarang ekspor bijih nikel mentah. Langkah ini memaksa perusahaan tambang membangun smelter di dalam negeri, sehingga nilai tambah dari sumber daya alam tetap berada di Indonesia.
Hasilnya, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) melonjak hingga Rp1.800 triliun selama 10 tahun kepemimpinan Jokowi.
“Bersama-sama kita akan melaksanakan hilirisasi, yaitu kekayaan Indonesia harus diolah di Indonesia. Kekayaan kita harus diurus sebaik-baiknya,” ujarnya
Presiden Prabowo Subianto, menegaskan komitmennya melanjutkan kebijakan ini. Ia juga menambahkan bahwa kekayaan Indonesia harus dinikmati seluruh rakyat, bukan hanya segelintir elite.
Investasi Jumbo dan Dampak Nyata
Hilirisasi bukan hanya soal pengolahan bahan mentah, tapi juga menarik investasi besar. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi selama 10 tahun pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin mencapai Rp9.117,4 triliun. Angka ini terbagi menjadi Rp3.294,3 triliun pada periode 2014–2019 dan Rp5.823,1 triliun pada periode 2019–2024.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan, “Investasi meningkat cukup steady, malah sangat baik kalau boleh saya sampaikan. Kalau saya bicara dengan investor dalam maupun luar negeri, karena di kita ini kestabilan baik secara ekonomi maupun politik terutama tercipta dengan sangat baik.”
Dengan stabilitas ekonomi dan politik yang terjaga, kepercayaan investor terhadap Indonesia terus meningkat. Hasilnya, hilirisasi tidak hanya mendongkrak pendapatan negara, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing di pasar global.
Smelter dan Nilai Tambah: Cerita Sukses Hilirisasi
Jokowi pernah menyinggung betapa Indonesia kehilangan peluang besar di masa lalu karena tidak memiliki smelter di dalam negeri. “Bayangkan, seperti Freeport, setahun mengolah 3 juta konsentrat tembaga, sudah 50 tahun lebih mereka mengolah itu. Smelternya ada di mana? Tidak di dalam negeri,” katanya. Kini, dengan kebijakan hilirisasi, smelter tembaga, nikel, dan bauksit mulai bermunculan, mengubah Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pusat pengolahan.
Hilirisasi nikel, misalnya, telah menjadi sorotan dunia. Dengan cadangan nikel terbesar sejagat, Indonesia kini memproduksi komponen baterai untuk kendaraan listrik, menempatkan diri sebagai pemain kunci di industri global. Langkah ini tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga membuka peluang Indonesia menjadi pusat produksi mobil listrik di masa depan.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski sukses, hilirisasi bukan tanpa tantangan. Persaingan global yang semakin ketat menuntut Indonesia untuk terus berinovasi. Selain itu, hilirisasi harus diperluas ke sektor lain seperti pertanian, perikanan, dan kehutanan agar manfaatnya semakin merata. Presiden Prabowo menegaskan, “Anak-anak kita harus makan dengan bergizi setiap hari,” menyinggung program makan bergizi gratis yang menjadi salah satu andalannya, yang juga akan didukung oleh hilirisasi sektor pertanian.
Jokowi juga berpesan agar hilirisasi tidak boleh terhenti. “Inilah yang sering saya sampaikan pentingnya hilirisasi. Industrial downstreaming. Penting sekali. Jangan ada yang mundur untuk satu masalah ini dengan alasan apa pun,” tegasnya.
Indonesia: Siap Bersaing di Panggung Dunia
Hilirisasi bukan sekadar kebijakan, tetapi visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global. Dengan mengolah sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen barang jadi yang bernilai tinggi. Langkah ini tidak hanya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga menciptakan kesejahteraan yang lebih merata bagi rakyat.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah, dukungan investor, dan potensi sumber daya alam yang melimpah, hilirisasi menjadi senjata andalan Indonesia untuk memenangkan persaingan global. Masa depan cerah menanti, asalkan langkah ini terus dijalankan dengan konsisten dan inovatif.