Era baru Formula 1 2026 dimulai dengan awan mendung bagi kemitraan ambisius Aston Martin dan Honda. Pabrikan asal Jepang tersebut akhirnya mengonfirmasi bahwa getaran tidak normal dari mesin pembakaran V6 terbaru mereka menjadi biang keladi di balik rusaknya sistem baterai mobil secara berulang kali, yang melumpuhkan seluruh program tes pra-musim tim.
Kepala Departemen Balap Roda Empat HRC, Ikuo Takeishi, mengungkapkan bahwa getaran tersebut mencapai level yang sangat membahayakan hingga Honda terpaksa mengambil keputusan ekstrem: menghentikan mobil di tengah pengujian di Bahrain demi alasan keselamatan.
“Getaran ini menyebabkan kerusakan fisik pada sistem baterai. Kami menghentikan mobil bukan karena kecelakaan akan segera terjadi, tapi karena kondisi tersebut sangat berbahaya untuk diteruskan,” tegas Takeishi kepada Motorsport.com edisi Jepang.
Teka-Teki Teknis Tanpa Solusi Instan
Kekhawatiran terbesar bagi kubu Honda adalah sumber masalah yang masih “misterius”. Hasil analisis awal menunjukkan bahwa getaran ini bukanlah akibat dari satu komponen yang cacat, melainkan hasil interaksi kompleks antar berbagai bagian mesin dan sasis.
“Jika penyebabnya tunggal, misalnya hanya pada transmisi atau mesin, solusinya akan mudah. Namun, kami menduga ada interaksi multifaktor. Memperbaiki satu bagian belum tentu menyelesaikan masalah ini sepenuhnya,” tambah Takeishi. Saat ini, para insinyur di fasilitas Sakura tengah bekerja siang malam menjalankan uji coba baterai pada test bench yang dipasangkan langsung ke monocoque mobil untuk mereplikasi pola getaran tersebut.
Defisit Kilometer yang Mengkhawatirkan
Dampak dari masalah ini sangat fatal bagi persiapan tim. Aston Martin mencatatkan statistik yang mengkhawatirkan dengan hanya menyelesaikan 399 putaran di seluruh sesi tes (Barcelona dan Bahrain). Angka ini bahkan tidak sampai separuh dari perolehan Williams (790 putaran) dan tertinggal sangat jauh dari kolektif mesin Mercedes yang melahap total 4.098 putaran.
Pada hari terakhir di Bahrain, Lance Stroll bahkan hanya sempat melakukan enam putaran instalasi sebelum tim terpaksa “gulung tikar” lebih awal karena kehabisan suku cadang akibat kerusakan yang ditimbulkan getaran mesin.
Diplomasi di Tengah Krisis
Presiden HRC, Koji Watanabe, mengakui bahwa situasi ini adalah tantangan terberat bagi Honda dalam memulai regulasi baru. Meski demikian, ia menekankan adanya solidaritas kuat antara Honda, Lawrence Stroll, hingga desainer jenius Adrian Newey.
“Sejujurnya, tes di Barcelona dan Bahrain sangat menantang. Kami belum mencapai performa yang diantisipasi,” aku Watanabe. “Namun, kami telah berbicara dengan Lawrence Stroll dan Adrian Newey. Kami bersatu sebagai satu tim untuk menyelesaikan masalah ini.”
Dengan Grand Prix pembuka di Australia yang tinggal hitungan hari (8 Maret) dan tenggat waktu homologasi FIA yang telah lewat, Honda dan Aston Martin kini menghadapi kenyataan pahit: memulai musim sebagai tim “paling tidak siap” di grid, sambil terus berburu jawaban atas getaran mesin yang merugikan mereka ribuan kilometer persiapan vital.