SANAA, YAMAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Kelompok Houthi Yaman membalas serangan udara Israel dengan menembakkan dua rudal balistik hipersonik ke wilayah Yaffa, menargetkan Bandara Lod. Meski Israel mengklaim berhasil mencegatnya, serangan ini menunjukkan ancaman Houthi terhadap stabilitas kawasan.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, dalam pernyataan resminya mengatakan, “Unit rudal Angkatan Bersenjata Yaman menargetkan Bandara Lod milik musuh Israel di wilayah Yaffa, Palestina yang diduduki, dengan dua rudal balistik hipersonik Palestina, dan operasi tersebut berhasil mencapai tujuannya.”
Ia menegaskan bahwa serangan ini merupakan bagian dari dukungan berkelanjutan Houthi terhadap perjuangan Palestina dan Lebanon, serta tidak akan berhenti hingga agresi Israel di Gaza dan Lebanon dihentikan.
Serangan Balasan di Tengah Konflik yang Membara
Serangan Houthi ini terjadi setelah Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke Yaman, menargetkan infrastruktur strategis seperti pelabuhan Hodeidah dan bandara di Sanaa.
Menurut laporan, serangan Israel tersebut merupakan balasan atas aksi Houthi sebelumnya yang menyerang wilayah Israel dengan drone dan rudal sejak Oktober 2023, sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina di tengah perang Gaza.
Militer Israel, melalui pernyataan resmi, menyatakan, “Setelah sirene berbunyi di beberapa wilayah Israel, sebuah rudal yang diluncurkan dari Yaman berhasil dicegat oleh Angkatan Udara Israel.” Meski demikian, serangan rudal Houthi memicu kepanikan di kalangan warga Israel, dengan sirene peringatan meraung di wilayah tengah negara tersebut pada Selasa (1/7/2025).
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menanggapi serangan ini dengan nada keras. “Setelah menyerang kepala ular di Teheran, kami juga akan menyerang Houthi di Yaman. Siapa pun yang mengangkat tangan melawan Israel, akan kami potong tangannya,” ujar Katz, merujuk pada konflik 12 hari antara Israel dan Iran yang berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni 2025.
Houthi: Kami Tak Akan Menyerah
Houthi, yang didukung Iran, telah menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi tekanan militer dari Israel dan sekutunya. Selain rudal balistik, kelompok ini juga mengerahkan sejumlah drone ke wilayah Yaffa, Ashkelon, dan Umm al-Rashrash, menargetkan lokasi-lokasi sensitif Israel. Yahya Saree menegaskan, “Operasi kami tidak akan berhenti sampai agresi berhenti, blokade di Gaza dicabut, dan serangan terhadap Lebanon berakhir.”
Konflik ini memperlihatkan dinamika rumit di Timur Tengah, di mana Houthi tidak hanya berhadapan dengan Israel, tetapi juga dengan kekuatan regional dan internasional seperti Amerika Serikat. Pada April 2025, serangan AS ke pelabuhan bahan bakar Yaman menewaskan sedikitnya 74 orang, yang disebut Houthi sebagai serangan paling mematikan dalam kampanye 15 bulan Washington terhadap kelompok tersebut.
Dampak Regional dan Ancaman Eskalasi
Serangan rudal Houthi ke Bandara Lod menambah ketegangan di kawasan yang sudah bergejolak. Konflik Israel-Iran yang sempat mereda dengan gencatan senjata kini kembali memanas dengan keterlibatan Houthi. Analis militer memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memperluas konflik, menyeret lebih banyak aktor regional seperti Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Sementara itu, warga Israel di wilayah tengah, termasuk Yaffa, terpaksa berlindung di bunker saat sirene peringatan berbunyi. Meski militer Israel mengklaim tidak ada kerusakan besar, insiden ini menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dan THAAD tidak selalu mampu menangkal ancaman rudal Houthi, yang diklaim memiliki teknologi hipersonik canggih.
Solidaritas Houthi dengan Palestina
Sejak konflik Gaza meletus pada Oktober 2023, Houthi telah melancarkan ratusan serangan ke Israel, termasuk lebih dari 309 rudal dan drone sejak Maret 2025, menurut klaim mereka sendiri. Aksi ini, menurut Houthi, adalah bentuk solidaritas dengan rakyat Palestina yang menghadapi agresi Israel. Serangan mereka juga menargetkan kapal-kapal di Laut Merah yang dianggap terkait dengan Israel, memperluas front perlawanan mereka.