JAKARTA – Hussam al-Masri, jurnalis video Reuters berusia 49 tahun, tewas akibat serangan Israel saat mengoperasikan siaran langsung dari Rumah Sakit Nasser, Gaza, Senin lalu. Masri dikenal sebagai sosok optimis yang tetap melaporkan penderitaan warga sipil meski hidup dalam tenda dan kesulitan mencari makanan untuk keluarganya.
“Besok akan lebih baik,” ucapnya dalam percakapan terakhir dengan Mohamed Salem, jurnalis senior Reuters yang telah mengenalnya sejak 2003. Salem menuturkan bahwa senyum dan semangat Masri membuatnya menjadi rekan kerja yang menyenangkan.
Pemimpin redaksi Reuters, Alessandra Galloni, menyampaikan duka mendalam atas kepergian Masri. “Hussam sangat berdedikasi untuk menyampaikan kisah Gaza kepada dunia. Ia kuat, tenang, dan berani dalam situasi paling menantang.”
Tubuh Masri ditemukan bersama kameranya di tangga luar rumah sakit, tempat ia menyiarkan pemandangan Khan Younis sebelum serangan terjadi. Ledakan kedua di lokasi yang sama menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk empat jurnalis dari berbagai media dan beberapa petugas penyelamat. Salah satu korban, Moaz Abu Taha, juga menyuplai visual untuk Reuters.
Fotografer Reuters, Hatem Khaled, mengalami luka dalam serangan kedua saat merekam dampak ledakan pertama. Militer Israel menyatakan bahwa jurnalis Reuters dan Associated Press bukan “target serangan.” PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut insiden tersebut sebagai “kesalahan tragis.”
Komite Perlindungan Jurnalis mencatat 189 jurnalis Palestina telah tewas selama perang Gaza dan menyerukan pertanggungjawaban internasional. “Pelaku tidak boleh lagi dibiarkan bertindak tanpa hukuman,” tegas lembaga itu, dilansir dari Reuters.
Masri meninggalkan istri, Samaher (39), yang menderita kanker, serta empat anak: Shahd (23), Mohammed (22), Shatha (18), dan Ahmad (15). Ia lahir dan besar di Khan Younis, memulai karier jurnalistik sebagai freelancer sejak 1998.
“Peran Hussam di media adalah menyampaikan kebenaran kepada publik,” ujar sang kakak, Ezzeldin al-Masri. “Kamera merekam, baik untuk atau melawan kita. Kamera merekam apakah ada pejuang Palestina atau pasukan pendudukan Israel.”
Setelah rumahnya hancur akibat serangan Israel, Masri dan keluarga tinggal di tenda. Dalam video yang dibagikan ke grup WhatsApp jurnalis, ia mengungkapkan kesedihannya: “Tak ada yang tersisa selain reruntuhan—reruntuhan yang kami tangisi.”
Masri bergabung dengan Reuters sebagai kontraktor sejak Mei 2024, bertugas menyiarkan langsung dari kamp pengungsian dan perbatasan Rafah. Ia kemudian mengelola siaran harian dari Rumah Sakit Nasser, yang menjadi jendela real-time Gaza bagi dunia.
“Hussam menjalankan tugas berat ini setiap hari selama berbulan-bulan,” kata Labib Nasir, editor visual Reuters untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.
Laporan terakhirnya, direkam Sabtu lalu, menampilkan keluarga yang berduka atas kematian anak-anak akibat serangan Israel, yang telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina. Masri memilih lokasi siaran di rumah sakit karena dianggap paling aman. Dalam percakapan terakhirnya, ia mengungkapkan betapa sulitnya hidup di Gaza dan perjuangan mencari makanan.
Beberapa jam kemudian, tubuhnya terbujur di atas tandu—gambar yang kini menjadi simbol kehilangan seorang jurnalis yang berdedikasi.
