Awan hitam menyelimuti lantai bursa pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa terburuknya dengan terjun bebas dan menetap di zona merah sepanjang hari tanpa perlawanan berarti.
Berdasarkan data RTI, IHSG resmi ditutup di posisi 7.577,064, rontok sedalam 362,702 poin atau setara dengan pelemahan tajam 4,57 persen. Padahal, saat bel pembukaan pagi tadi, indeks masih sempat bertengger di level menjanjikan pada posisi 7.896,377.
Kronologi Ambruknya Indeks
Kepanikan pasar sudah terlihat sejak menit pertama perdagangan dibuka. Upaya indeks untuk bangkit hanya menyentuh level tertinggi di 7.897,812 sebelum akhirnya “terjun payung” hingga menyentuh titik terendah di 7.486,321.
Volume perdagangan terpantau sangat jumbo, mencapai 53,083 miliar lembar saham dengan nilai transaksi menembus Rp29,599 triliun. Angka ini menunjukkan tekanan jual yang sangat masif dari para investor.
Statistik akhir mencatat pemandangan yang kontras: 734 saham melemah, berbanding terbalik dengan hanya 54 saham yang menguat.
Seluruh Sektor Tanpa Ampun
Tidak ada tempat berlindung bagi investor hari ini. Ke-11 sektor saham di BEI kompak berguguran. Sektor Industri Dasar memimpin kehancuran dengan koreksi hingga 7,42 persen, disusul sektor transportasi yang melorot 7,23 persen, dan sektor cyclical yang terpangkas 6,69 persen.
-
Top Gainers (Melawan Arus): Di tengah badai, saham TOWR, MAPI, UNVR, JPFA, dan MIKA masih mampu mencatatkan penguatan tipis.
-
Top Losers (Paling Boncos): Saham-saham blue chip dan properti seperti BTPS, TLKM, BBRI, BSDE, dan AMMN menjadi kontributor utama kejatuhan indeks.
Kondisi di Jakarta mencerminkan kepanikan regional di Asia. Indeks Nikkei (Jepang) ambruk signifikan sebesar 3,61 persen, diikuti oleh Hang Seng (Hong Kong) yang melemah 2,01 persen, serta Straits Times (Singapura) yang terkoreksi tajam 2,28 persen.
Pelemahan serentak ini memberikan sinyal bahwa para pelaku pasar tengah mengantisipasi risiko besar, baik dari ketegangan geopolitik global maupun pergeseran kebijakan ekonomi internasional.