JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah yang tajam pada perdagangan Senin (12/1/2026).
Padahal baru saja mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di awal sesi, lalu tertekan kuat hingga mendekati penutupan bursa.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG membuka perdagangan di level 8.991,760 dan sempat melonjak ke posisi 9.000,96.
Level ini sekaligus mengukir rekor all time high (ATH) terbaru pada sesi pertama.
Kenaikan agresif tersebut tidak mampu dipertahankan karena tekanan jual mulai mendominasi pasar, membuat IHSG berbalik arah dan terkoreksi signifikan menjelang akhir perdagangan.
Pada pukul 15.45 WIB, IHSG tercatat turun ke level 8.861,80 atau melemah 74,96 poin setara 0,84 persen dari posisi sebelumnya.
Tekanan intraday bahkan sempat membawa IHSG jatuh lebih dalam hingga menyentuh level terendah harian di 8.715,411 atau terkoreksi sekitar 250 poin dari posisi pembukaan.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi tajam tersebut terutama dipicu pelemahan saham-saham sektor energi yang mengalami tekanan cukup dalam.
“Kami mencermati koreksi dari IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2 persen.”
“Dimana kami perkirakan adanya kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan,” ujar Herditya dikutip dari Kompas.
Menurut Herditya, tekanan jual di sektor energi berkaitan erat dengan aksi ambil untung investor setelah reli kuat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Meski sempat tertekan, pergerakan IHSG menunjukkan tanda pemulihan seiring berjalannya perdagangan, walaupun belum mampu kembali ke zona penguatan.
“Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif,” paparnya.
Tingginya volatilitas turut mendorong lonjakan aktivitas transaksi pasar saham menjelang penutupan perdagangan.
Volume perdagangan tercatat mencapai 56,388 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 30,229 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 4.005.796 kali.
Dari sisi pergerakan saham, tekanan jual terlihat lebih dominan dengan 513 saham melemah, 218 saham menguat, dan 80 saham bergerak stagnan.***