JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, di zona hijau setelah bertambah 17,04 poin atau 0,29 persen ke level 5.943,02.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di posisi 5.940,67 dan sempat mencapai level tertinggi 6.009,95 sebelum mengakhiri sesi di bawah angka psikologis 6.000.
Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih didominasi tekanan karena 321 saham melemah, sedangkan 280 saham menguat dan 194 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai perbaikan sentimen internasional turut menopang pergerakan bursa saham di kawasan Asia, termasuk pasar saham Indonesia.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengenai prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.
Williams menilai satu kali kenaikan suku bunga tambahan masih tepat dilakukan pada 2026, tetapi tidak melihat kebutuhan untuk memperketat kebijakan moneter lebih lanjut pada 2027.
Pernyataan tersebut memberikan bahan pertimbangan bagi investor dalam memperkirakan arah suku bunga AS dan dampaknya terhadap pasar keuangan global.
Selain kebijakan moneter AS, perkembangan ekonomi China turut memengaruhi sentimen perdagangan saham regional setelah data perdagangan negara tersebut menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Ekspor China pada September 2026 tumbuh dengan laju tercepat sejak awal 2021, sementara kinerja impornya juga melampaui perkiraan pasar.
Surplus perdagangan China meningkat menjadi 133,53 miliar dolar AS pada September, lebih tinggi dibandingkan perkiraan 110 miliar dolar AS dan capaian Agustus sebesar 119,09 miliar dolar AS.
Dari sisi harga, inflasi tahunan China naik tipis menjadi 0,9 persen pada September, dibandingkan 0,8 persen pada bulan sebelumnya, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 1 persen.
Dari dalam negeri, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu faktor yang menopang optimisme pasar setelah Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional.
IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 5 persen.
Revisi tersebut didukung oleh upaya mempertahankan daya beli rumah tangga dan peningkatan belanja pemerintah yang diharapkan menjaga aktivitas ekonomi domestik.
Pilarmas menilai ketahanan fundamental ekonomi Indonesia berpotensi memperkuat kepercayaan investor meskipun pertumbuhan ekonomi global menghadapi berbagai tantangan.
“Dengan terjaganya resilience makroekonomi nasional di tengah melambatnya momentum pertumbuhan global. Tentunya ini akan menjadi motor penggerak untuk meningkatkan kepercayaan investor,” ujar Tim Pilarmas Investindo Sekuritas.
Meski IHSG berhasil ditutup menguat, investor tetap perlu mencermati risiko konflik geopolitik yang dapat memicu ketidakpastian ekonomi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada perdagangan 14 Oktober 2026 berlangsung di tengah kombinasi sentimen positif dari prospek ekonomi domestik dan perbaikan sejumlah indikator global, dengan risiko eksternal yang masih membayangi pergerakan pasar berikutnya.***