JAKARTA – Pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini Jumat (10/4/2026) diprediksi masih akan mengalami dinamika tinggi menjelang akhir pekan.
IHSG dipredikasikan terjadi pola naik-turun yang membuka peluang penguatan sekaligus risiko koreksi dalam jangka pendek.
Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang saling tarik-menarik, membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Di satu sisi, optimisme pasar mulai terlihat seiring meredanya ketegangan geopolitik global, namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi nasional masih menjadi bayang-bayang bagi investor.
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pergerakan indeks masih berada dalam fase volatil yang belum sepenuhnya stabil.
“Kami mencermati pergerakan IHSG masih relatif volatile dengan kecenderungan menguat,” ujarnya dalam laporan analisinya, Jumat.
Sentimen eksternal yang dominan berasal dari meredanya konflik di kawasan Timur Tengah yang mulai mendorong kembali minat investor terhadap aset berisiko seperti saham.
Namun dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia yang diturunkan dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen.
Penyesuaian proyeksi tersebut memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi, sehingga berpotensi menahan laju penguatan IHSG.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak pada kisaran support 6.745 hingga 6.849 jika terjadi tekanan jual.
Sementara jika terjadi penguatan, indeks berpotensi menguji level resistance di rentang 7.497 hingga 7.677.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG berhasil ditutup menguat 0,39 persen ke posisi 7.307,58.
Meski demikian, penguatan tersebut dibayangi aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,77 triliun.
Sejumlah saham unggulan yang menjadi sasaran aksi jual asing antara lain BBCA, BBRI, BMRI, BUMI, dan BRPT.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat mencatat penguatan yang cukup solid.
“Penguatan ditopang optimisme pelaku pasar bahwa gencatan senjata AS dan Iran dapat bertahan,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Indeks S&P 500 menguat 0,62 persen, Nasdaq naik 0,83 persen, dan Dow Jones bertambah 0,58 persen.
Kenaikan juga terjadi pada harga minyak dunia yang kembali menunjukkan tren positif.
Minyak mentah jenis WTI melonjak lebih dari 3 persen ke level USD97,87 per barel.
Sedangkan Brent menguat lebih dari 1 persen menjadi USD95,92 per barel.
Berbanding terbalik, mayoritas bursa saham Asia-Pasifik justru ditutup di zona merah.
Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,73 persen dan Hang Seng terkoreksi 0,54 persen.
Kospi Korea Selatan mengalami penurunan tajam sebesar 1,61 persen.
Sementara itu, ASX 200 Australia menjadi pengecualian dengan kenaikan tipis 0,24 persen.
Tekanan di pasar Asia dipicu ketidakpastian lanjutan terkait kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
“Kemarin, Iran menuding AS melanggar kesepakatan, Karen zionis Israel masih melakukan serangan ke Lebanon. Karena penghentian serangan zionis Israel ke semua front termasuk Lebanon menjadi salah satu butir kesepakatan gencatan senjata,” ucap Fanny.
Situasi tersebut berdampak langsung pada jalur perdagangan energi global.
Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz yang menyebabkan distribusi minyak dunia terganggu.
Langkah tersebut juga diikuti sikap tegas Iran yang menolak melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat selama serangan ke Lebanon masih berlangsung.***