JAKARTA – Tim ilmuwan dari Universitas Radboud, Belanda, mengungkap prediksi mengejutkan tentang akhir alam semesta yang disebut bisa terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Berdasarkan perhitungan canggih terkait evolusi lubang hitam, para peneliti memperkirakan bahwa alam semesta akan “lenyap” dalam skala waktu yang meskipun sangat jauh, dinilai lebih pendek dari teori-teori sebelumnya.
Temuan ini memicu perdebatan luas di kalangan ilmuwan dan masyarakat global mengenai nasib kosmos dan masa depan kehidupan
Prediksi Berbasis Sains: Lubang Hitam Jadi Kunci
Penelitian ini dipimpin oleh tim ahli dari Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda, yang menggabungkan keahlian fisika kuantum, matematika, dan kosmologi. Menurut laporan yang diterbitkan dalam Jurnal Kosmologi dan Fisika Astropartikel, alam semesta yang kita kenal, yang berasal dari Big Bang sekitar 13,787 miliar tahun lalu, memiliki batas waktu eksistensi.
Para peneliti menghitung bahwa alam semesta bisa “lenyap” dalam jangka waktu yang diukur dengan angka fantastis: satu diikuti oleh 78 nol tahun. Angka ini, meski terdengar sangat jauh, ternyata lebih pendek dari prediksi sebelumnya tentang umur alam semesta. “Ini adalah pemikiran yang menakutkan, tetapi para ahli berpikir mereka telah mampu melakukan perhitungan untuk mengetahui kapan alam semesta akan menghilang sepenuhnya,” tulis tim peneliti dalam laporan mereka.
Mengapa Lubang Hitam
Teori ini berpijak pada sifat lubang hitam, yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Albert Einstein pernah berteori bahwa lubang hitam hanya bisa membesar, sedangkan Stephen Hawking memperkenalkan gagasan bahwa lubang hitam bisa menyusut melalui proses radiasi.
Kedua pandangan ini menjadi dasar bagi ilmuwan Belanda untuk menghitung kapan alam semesta akan mencapai titik akhirnya.
“Lubang hitam adalah kunci untuk memahami evolusi kosmos. Dengan mempelajari sifat mereka, kita bisa memperkirakan kapan semua materi di alam semesta akan lenyap,” jelas salah satu peneliti dari Universitas Radboud.
Perhitungan ini mempertimbangkan bagaimana lubang hitam secara perlahan “menguap” hingga menghilang, sebuah proses yang memengaruhi struktur dasar alam semesta.
Reaksi Dunia: Antara Kekaguman dan Skeptisisme
Klaim tentang tanggal kiamat ini memicu beragam tanggapan. Di media sosial, topik ini menjadi tren dengan banyak pengguna yang kagum sekaligus skeptis. Beberapa menyebut penelitian ini sebagai terobosan ilmiah, sementara yang lain mempertanyakan relevansinya mengingat waktu yang sangat jauh. “Jika kiamat baru terjadi miliaran tahun lagi, kenapa kita harus khawatir sekarang?” tulis seorang pengguna di platform X.
Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian ini bukan sekadar prediksi sensasional. Hasilnya memberikan wawasan baru tentang siklus hidup alam semesta dan mendorong manusia untuk lebih memahami tempatnya di kosmos.
“Ini bukan tentang ketakutan, tetapi tentang memahami bagaimana alam semesta bekerja,” tambah peneliti.
Kiamat dalam Perspektif Sains dan Budaya
Prediksi tentang akhir dunia bukan hal baru. Sebelumnya, ramalan seperti kiamat Maya 2012 atau perhitungan berbasis agama sering kali mencuri perhatian.
Namun, berbeda dengan ramalan tersebut, penelitian ini berbasis data ilmiah dan perhitungan matematis yang ketat. NASA bahkan pernah menegaskan bahwa tidak ada ancaman kiamat dalam waktu dekat, seperti yang diklaim pada 2012.
“Planet kita baik-baik saja selama lebih dari empat miliar tahun dan ilmuwan yang terpercaya di seluruh dunia tahu bahwa tak ada ancaman yang terkait dengan 2012,” tulis NASA dalam laman resminya.
Meski begitu, prediksi kiamat selalu menarik perhatian karena menyentuh rasa ingin tahu manusia tentang masa depan. Dalam budaya populer, kiamat sering digambarkan dengan bencana besar seperti tabrakan asteroid atau ledakan matahari.
Namun, penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih tenang: akhir alam semesta mungkin terjadi secara perlahan, tanpa ledakan dramatis.
Meskipun prediksi ini berbicara tentang masa depan yang sangat jauh, penelitian ini mengingatkan kita akan kerapuhan eksistensi. Para ilmuwan mendorong umat manusia untuk terus mengejar pengetahuan dan menjaga planet ini agar tetap layak huni.
“Penemuan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menginspirasi kita agar lebih bijak dalam menjalani hidup,” ujar salah satu anggota tim peneliti.
Bagi masyarakat awam, prediksi ini mungkin terasa jauh dan abstrak. Namun, di balik angka-angka fantastis dan teori rumit, ada pesan sederhana: alam semesta adalah tempat yang luas dan penuh misteri, dan manusia baru mulai menguak rahasianya.
Penelitian dari ilmuwan Belanda ini menambah babak baru dalam upaya manusia memahami alam semesta. Dengan perhitungan berbasis lubang hitam, mereka menawarkan gambaran tentang kapan kiamat alam semesta mungkin terjadi, meski dalam skala waktu yang sulit dibayangkan.
