WASHINGTON – Impor energi dari Amerika Serikat menjadi bagian integral dari kesepakatan dagang antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump yang baru saja disepakati di tingkat kenegaraan.
Hal tersebut seperti disampaikan Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri dalam konferensi pers yang digelar di Washington pada Jumat (20/2/2026) pagi waktu setempat
Simon menjelaskan, nilai kerja sama tersebut mencapai 15 miliar dolar AS dan difokuskan pada penguatan ketahanan energi nasional.
“Dapat kami sampaikan di sini bahwa skema impor adalah sebagai jembatan kita menuju ketahanan, menuju kepada kemandirian energi,” ujarnya dalam pernyataannya di hadapan media.
Menurut Simon, langkah ini tidak dapat dilepaskan dari upaya bersama antara Kementerian ESDM, Pertamina, SKK Migas, dan seluruh kontraktor kerja sama (K3S) untuk mengatasi penurunan produksi alamiah (natural decline) dan memperkuat lifting nasional.
Ia menekankan perlunya terobosan dan inovasi berkelanjutan guna menjaga stabilitas suplai energi di tengah tantangan global.
Pertamina sebelumnya telah menandatangani beberapa nota kesepahaman (MOU) dengan perusahaan besar Amerika Serikat seperti Exxon Mobil, Chevron, KDT Global Resources, hingga Heartre.
“Pada saat bulan Juli, kami juga telah merintis beberapa penandatanganan MOU dengan beberapa calon mitra dari Amerika Serikat,” kata Simon menjelaskan proses yang terus berjalan.
Kerja sama juga melibatkan raksasa energi Halliburton melalui penandatanganan MOU yang bertujuan memperluas kerja sama di sektor pemulihan ladang minyak (oil field recovery).
“Jadi kerja sama ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tapi lebih dari itu, dari transfer teknologi, dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan tentunya dengan best global practices,” tambah Simon.
Ia menegaskan, mekanisme impor energi dilakukan secara transparan melalui sistem tender dan bidding sebagaimana telah menjadi praktik standar Pertamina. Tidak ada penunjukan langsung dalam proses tersebut, melainkan melalui tahapan seleksi terbuka.
Selain memperluas impor bahan bakar mentah (crude oil), Pertamina memprioritaskan diversifikasi sumber energi.
Simon menyebut Amerika Serikat berpotensi menjadi pemasok utama setelah Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.
“Kita juga harus memperbanyak sumber agar supaya kita memastikan memperoleh harga yang paling kompetitif,” ungkapnya.
Hingga kini, sekitar 57 persen pasokan LPG Pertamina masih diimpor dari AS, dan dengan adanya kesepakatan baru ini, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga 70 persen.
Peningkatan juga direncanakan untuk impor crude oil serta penjajakan produk-produk energi lain dari mitra Amerika.
Simon memastikan seluruh proses akan dijalankan dengan memperhatikan prinsip kepatuhan, regulasi, dan transparansi.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan ini bersifat saling menguntungkan.
“Perjanjian kerja sama ini adalah untuk win-win, jadi untuk kebaikan dan kemajuan kedua negara,” ucapnya menegaskan hasil pembicaraan tingkat tinggi kedua presiden.
Kesepakatan tersebut diperkirakan akan difinalisasi dalam waktu 90 hari ke depan setelah melalui tahapan administratif dan dukungan kebijakan pemerintah Indonesia.
Pertamina pun memastikan akan terus melakukan transformasi tata kelola untuk memastikan efisiensi, akuntabilitas, dan manfaat maksimal bagi publik.
“Dengan demikian, kita berharap bahwa semua proses sebagai bagian dari kesepakatan dagang ini dapat berlangsung dengan baik, tentunya memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia dan untuk mitra kita di Amerika Serikat,” tutup Simon dengan optimisme.***