Virus Nipah yang mematikan kembali muncul di India, kali ini di negara bagian West Bengal, memicu kekhawatiran global. Kementerian Kesehatan India mengonfirmasi setidaknya lima kasus infeksi Nipah virus (NiV) pada Januari 2026, termasuk dua kasus pada petugas kesehatan (perawat) di Kolkata.
Hampir 100 orang yang menjadi kontak dekat telah dikarantina dan diuji, sementara otoritas kesehatan setempat menerapkan pengawasan ketat untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Virus Nipah Menyebabkan Kematian
Virus Nipah, yang pertama kali diidentifikasi pada 1998-1999 di Malaysia dan Singapura, merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Kelelawar buah (fruit bats) menjadi reservoir utama, dan penularan ke manusia sering terjadi melalui konsumsi buah atau air nira kurma mentah yang terkontaminasi urine atau air liur kelelawar. Penularan antarmanusia juga dimungkinkan melalui droplet pernapasan, terutama di lingkungan rumah sakit atau kontak dekat.
Gejala awal mirip flu biasa: demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, dan mual. Namun, infeksi bisa berkembang menjadi ensefalitis (radang otak) parah, kebingungan, kejang, koma, hingga kematian.
Tingkat kematian (fatality rate) virus ini sangat tinggi, mencapai 40-75% tergantung strain dan akses perawatan, jauh lebih tinggi daripada COVID-19. Saat ini, belum ada vaksin atau obat antivirus spesifik; pengobatan hanya bersifat suportif untuk mengatasi gejala.
Outbreak ini bukan yang pertama di India. Sebelumnya, Kerala mencatat wabah pada 2018 (17 kematian dari 19 kasus) dan 2023 (2 kematian dari 6 kasus).
Kasus terbaru di West Bengal dianggap “tidak besar” oleh pemerintah India, tetapi ditangani dengan prioritas tinggi karena potensi penyebaran cepat dan ketiadaan pengobatan spesifik. Otoritas telah menelusuri kontak, melakukan karantina, dan meningkatkan surveilans di fasilitas kesehatan.
Kekhawatiran global muncul karena musim perjalanan Tahun Baru Imlek di Asia semakin dekat, sehingga beberapa negara Asia langsung mengambil langkah pencegahan.
Thailand telah menerapkan pemeriksaan kesehatan ketat di tiga bandara utama untuk penumpang dari West Bengal, termasuk pemeriksaan suhu tubuh, kuesioner gejala, dan pemantauan kesehatan.
Nepal dan Taiwan juga memperkenalkan kembali protokol mirip era COVID-19, seperti screening kesehatan dan pemantauan gejala bagi penumpang dari India. Hong Kong dan China juga meningkatkan kewaspadaan, meskipun risiko impor dianggap rendah karena karakteristik virus yang kurang mudah menular antarmanusia dibandingkan virus pernapasan seperti SARS-CoV-2.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pakar kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini, menghindari konsumsi buah mentah dari area endemik, serta penggunaan alat pelindung diri bagi petugas kesehatan.
Meskipun risiko bagi pelancong umum rendah kecuali ada kontak langsung dengan kasus atau hewan terinfeksi, peningkatan screening di bandara menjadi langkah preventif untuk mencegah penyebaran lintas batas.