Perdana Menteri India, Narendra Modi, resmi menutup kunjungan kenegaraan dua harinya ke Israel dengan komitmen besar untuk memperdalam kerja sama di sektor pertahanan dan kecerdasan buatan (AI).
Dalam pernyataan bersama pada Kamis (26/2/2026), PM Modi dan mitranya, Benjamin Netanyahu, mengumumkan langkah ambisius menuju perjanjian perdagangan bebas (FTA).
“Kami telah mengambil keputusan bersejarah untuk meningkatkan kemitraan yang telah teruji waktu ini menjadi Kemitraan Strategis Spesial,” ungkap Modi melalui unggahannya di platform X.
Misi Diplomasi dan Empati
Kunjungan kedua Modi sejak 2017 ini dipandang sebagai ujian krusial bagi kebijakan luar negeri India dalam menyeimbangkan hubungan dengan Israel dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Dalam rangkaian agendanya, Modi mengunjungi Yad Vashem (monumen peringatan Holocaust) dan memberikan pidato di hadapan Knesset.
Modi secara tegas mengecam serangan Hamas pada Oktober 2023. “Kami merasakan kepedihan Anda. India berdiri bersama Israel dengan keyakinan penuh, di momen ini dan seterusnya,” tegasnya. Meski demikian, India tetap menyuarakan keprihatinan atas jatuhnya korban sipil di Gaza dan terus mendukung solusi dua negara (two-state solution).
Kerja Sama Digital dan Tenaga Kerja
Kunjungan ini membuahkan lebih dari selusin kesepakatan bilateral di bidang keamanan siber, luar angkasa, hingga pertanian. Dua poin krusial yang menonjol adalah:
-
Ekspansi Digital: India akan memperluas sistem pembayaran digital unggulannya, UPI, ke Israel guna memperkuat integrasi keuangan kedua negara.
-
Mobilitas Tenaga Kerja: Israel berkomitmen untuk menampung tambahan 50.000 pekerja India dalam lima tahun ke depan.
Kedua pemimpin juga mengapresiasi rencana perdamaian Gaza yang diusung Presiden AS Donald Trump. “Rencana perdamaian Gaza telah membuka jalan menuju ketenangan. India mendukung penuh upaya tersebut,” tambah Modi.
Pro Kontra di Dalam Negeri
Meski dianggap produktif secara strategis, kunjungan Modi tak luput dari kritik di tanah airnya sendiri. Juru bicara partai oposisi Kongres, Jairam Ramesh, menuding pemerintahan Modi telah meninggalkan perjuangan Palestina.
Namun, para analis menilai langkah ini adalah murni kepentingan strategis jangka panjang. Kabir Taneja dari Observer Research Foundation menyebut bahwa kunjungan ini didorong oleh kebutuhan bilateral yang mendesak, mengingat stabilitas kawasan Timur Tengah sangat penting bagi kepentingan ekonomi dan keamanan India secara luas.