JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan Kementerian Keuangan bersiap melakukan negosiasi penting dengan China terkait restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Rencana kunjungan kerja ke Beijing dijadwalkan pada Desember 2025, dipimpin langsung oleh CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Rosan menegaskan bahwa komunikasi intensif dengan Menkeu Purbaya terus berlangsung untuk mematangkan proposal yang akan dibawa ke China.
“Kita komunikasi terus dengan beliau, dengan Pak Purbaya. Kita duduk dan kita juga sedang memastikan bahwa nanti kita ke China-nya, kita sudah matang proposal ke China-nya,” kata Rosan , Rabu (26/11/2025).
Sebelum delegasi utama berangkat, tim pendahulu (advance team) telah dikirim lebih dulu untuk membuka pembicaraan dengan pihak China.
“Kita tentunya akan kirim tim advance dulu untuk bicara dengan tim dari China, itu sudah berjalan. Tapi nanti gongnya mungkin saya dengan Pak Purbaya,” tambah Rosan yang juga menjabat Menteri Investasi/Kepala BKPM.
Ketika ditanya kepastian jadwal keberangkatan, Rosan menjawab singkat, “Secepatnya, insya Allah.”
Total Utang Capai US$7,27 Miliar, 75% dari China
Proyek Kereta Cepat Whoosh menelan biaya total US$7,27 miliar atau setara Rp120 triliun (kurs Rp16.500). Sebanyak 75% dana tersebut berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan suku bunga 2% per tahun.
Pemerintah saat ini masih mengkaji skema pembagian tanggung jawab antara Danantara dan APBN. Kementerian Keuangan kemungkinan hanya menanggung komponen infrastruktur sipil seperti jalur rel dan stasiun, sementara rolling stock (kereta dan sarana pendukungnya) tidak menjadi beban Kemenkeu.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan akan mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto dalam penyelesaian masalah ini. Secara pribadi, ia mengaku enggan menggunakan APBN untuk membayar utang tersebut.
“Kalau saya mending enggak bayar. Namun, ini ada kebijakan dari atasannya, seperti presiden dan lainnya,” ujar Purbaya.
KCIC Sudah Catatkan EBITDA Positif
Di sisi operasional, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menunjukkan perkembangan positif. Perusahaan telah mencatatkan EBITDA positif, artinya mampu menutupi seluruh biaya operasional tanpa bergantung pada suntikan dana tambahan.
Langkah negosiasi ini menjadi sorotan mengingat Whoosh merupakan proyek strategis nasional pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi kereta cepat. Keberhasilan restrukturisasi utang diharapkan dapat meringankan beban fiskal negara sekaligus menjaga hubungan bilateral ekonomi Indonesia-China.