Apple kembali merebut posisi puncak pasar smartphone China setelah pengiriman iPhone melonjak 28 persen pada kuartal libur akhir tahun, menurut data terbaru Counterpoint Research. Kinerja kuat ini didorong oleh tingginya minat konsumen terhadap iPhone 17, yang menyumbang sekitar 20 persen dari total pengiriman smartphone di China selama kuartal Desember.
Lonjakan Apple terjadi di tengah pelemahan pasar secara keseluruhan. Total pengiriman smartphone di China—pasar terbesar dunia—turun 1,6 persen secara tahunan. Namun, Apple justru mampu memperluas pangsa pasarnya, sebagian besar dengan menggerus posisi para pesaing utama seperti Huawei Technologies dan Xiaomi, yang masing-masing mencatat penurunan pengiriman dua digit pada periode yang sama.
Dominasi Apple terlihat semakin jelas dari data penjualan kumulatif yang dibagikan pengamat industri Ice Universe. Sejak peluncuran pada September 2025 hingga pekan kedua Januari 2026, seri iPhone 17 tercatat terjual 17,27 juta unit di China. Angka ini jauh melampaui para pesaingnya: seri Xiaomi 17 berada di posisi kedua dengan 3,08 juta unit, disusul seri Mate 80 dari Huawei dengan 2,06 juta unit. Sementara itu, Vivo X300 dan Oppo Find X9 masing-masing hanya membukukan penjualan 1,16 juta dan 0,91 juta unit.
Dengan selisih yang begitu besar, Apple disebut telah menjual lebih banyak unit iPhone 17 dibandingkan seluruh ponsel flagship buatan produsen China jika digabungkan, sebagaimana dilaporkan NotebookCheck.
Secara tahunan, sepanjang 2025 Apple memang masih sedikit berada di bawah Huawei dalam total pengiriman di China. Kedua merek sama-sama menguasai sekitar 17 persen pangsa pasar, namun Apple mencatat pertumbuhan pengiriman tahunan sebesar 7,5 persen, menunjukkan momentum yang terus menguat.
Keunggulan Apple di segmen premium juga membuatnya relatif tahan terhadap tekanan kelangkaan chip memori global, yang kini semakin membebani produsen smartphone China.
Para pembuat chip memori mengalihkan kapasitas produksi ke memori kelas atas untuk chip kecerdasan buatan, termasuk yang digunakan oleh Nvidia, sehingga mendorong harga memori naik tajam dan menyulitkan produsen yang tidak memiliki kontrak pasokan jangka panjang.
Counterpoint memperkirakan harga memori masih akan terus meningkat, dengan kenaikan 40–50 persen pada kuartal I 2026, disusul tambahan sekitar 20 persen pada kuartal II 2026. CEO TSMC C.C. Wei sebelumnya menegaskan bahwa smartphone kelas atas relatif tidak terdampak oleh krisis ini—sebuah kondisi yang kembali menguntungkan Apple.
Meski demikian, Apple juga menghadapi satu catatan negatif. iPhone Air, yang peluncurannya di China tertunda akibat proses persetujuan regulasi eSIM, gagal mencatat penjualan signifikan. Analis Counterpoint Ivan Lam menilai performa iPhone Air berada di bawah ekspektasi.
“Peluncuran yang terlambat, ditambah kompromi antara desain ultra-tipis dan fitur yang ditawarkan, membuat iPhone Air memulai debutnya dengan lambat di pasar China,” ujar Ivan Lam.
