JAKARTA – Iran mengaktifkan sistem pertahanan udaranya di Tehern pada Kamis (30/4/2026) malam untuk menghadapi pesawat kecil dan drone pengintai.
Kantor berita Tasnim dan Fars melaporkan sistem tersebut beroperasi sekitar 20 menit sebelum situasi kembali normal.
Langkah ini terjadi di tengah tekanan terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang menghadapi tenggat waktu Kongres untuk memperoleh otorisasi perang melawan Iran. Gedung Putih berpendapat batas waktu 60 hari telah berhenti sementara akibat gencatan senjata yang diumumkan 7 April. “Untuk keperluan Resolusi Kekuatan Perang, permusuhan yang dimulai pada hari Sabtu, 28 Februari telah berakhir,” kata seorang pejabat senior kepada AFP, dilansir Hurriyet Daily News, Jumat (1/5/20026).
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyebut Amerika Serikat mengalami “kekalahan memalukan” dan menegaskan kendali Iran atas Selat Hormuz. “Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para pengganggu dunia di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika Serikat dalam rencananya, babak baru sedang terungkap untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz,” ujarnya.
Sementara itu, harga minyak dunia melonjak hingga $126 per barel, tertinggi dalam empat tahun, sebelum sedikit mereda. Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan penutupan Selat Hormuz “mencekik perekonomian global,” sedangkan Kepala Badan Energi Internasional Fatih Birol menyebut krisis energi saat ini sebagai yang terbesar dalam sejarah.
Di sisi lain, bentrokan terus berlanjut di Lebanon. Kedutaan AS mendesak pertemuan antara pemimpin Lebanon dan Israel, setelah Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam konflik. Serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya 15 orang. Trump bahkan menyatakan berharap dapat menjamu Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “dalam beberapa minggu ke depan.”