JAKARTA – Iran dilaporkan mengalami pemadaman internet nasional pada Kamis (8/1/2026), menurut kelompok pemantau global NetBlocks. Pemadaman terjadi di tengah gelombang protes besar yang meletus sejak akhir Desember, dipicu hiperinflasi dan krisis ekonomi berkepanjangan di negara yang masih berada di bawah sanksi internasional.
Protes Meluas dan Tuntutan Monarki
Kerusuhan nasional ini disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Aksi demonstrasi dengan cepat menyebar ke sejumlah kota dan memicu bentrokan mematikan dengan aparat keamanan. Sebagian pengunjuk rasa bahkan menuntut pemulihan monarki.
Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, menyerukan lebih banyak aksi protes melalui unggahan video di X pada Rabu (7/1).
Korban Jiwa dan Kekerasan
Laporan menyebut sedikitnya 21 orang tewas selama gelombang protes. Kantor berita Tasnim menyiarkan video dari kota Qazvin, yang memperlihatkan serangan brutal terhadap seorang petugas keamanan. Menurut sumber media, petugas tersebut tidak bersenjata dan hanya berusaha mengajak warga menyampaikan aspirasi tanpa merusak fasilitas publik.
Respons Pemerintah
Presiden Masoud Pezeshkian memperingatkan pemasok domestik agar tidak menimbun atau menaikkan harga barang. Ia menegaskan masyarakat tidak boleh mengalami kekurangan dan meminta pemerintah memastikan pasokan serta memantau harga secara ketat di seluruh negeri.
Namun, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan para perusuh harus “ditempatkan pada tempatnya.” Sementara itu, hakim tertinggi Iran menuduh demonstran “beroperasi sejalan” dengan Amerika Serikat dan Israel.
