KAIRO, MESIR – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Israel akan menghadapi konsekuensi serius jika menyerang fasilitas nuklir Iran, menyebut ancaman tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Menlu Mesir Badr Abdelatty di Kairo, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
“Ancaman apa pun atas kedamaian instalasi nuklir kami adalah pelanggaran besar hukum internasional,” ujar Araghchi, seperti dikutip dari Anadolu. “Jika Israel melakukan kesalahan itu, mereka akan menyesalinya,” tambahnya dengan nada tegas.
Program Nuklir Iran: Damai atau Ancaman?
Araghchi kembali menegaskan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bertujuan damai dan berfokus pada pengembangan energi sipil. Ia menekankan bahwa Teheran tidak memiliki rencana untuk mengembangkan senjata nuklir dan siap memberikan jaminan kepada komunitas internasional.
“Kami tidak menyembunyikan apa pun tentang hal ini. Program nuklir kami damai dan semua kegiatan kami damai. Pengayaan uranium adalah pencapaian ilmiah utama yang dicapai oleh para ilmuwan kami dengan pengorbanan besar dari rakyat Iran,” katanya.
Meski demikian, Iran bersikukuh untuk tidak mengorbankan haknya dalam pengembangan teknologi nuklir. “Pada saat yang sama, kami tidak akan melepaskan hak-hak alamiah kami di bidang ini. Oleh karena itu, tidak ada aktivitas nuklir yang damai—khususnya pengayaan—dapat ditangguhkan,” tegas Araghchi.
Israel dan AS dalam Sorotan
Pernyataan keras ini muncul di tengah laporan intelijen AS yang menyebutkan bahwa Israel tengah mempersiapkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, seperti Fordow dan Natanz, pada pertengahan 2025. Laporan tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi menyeret Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel.
Araghchi juga menuding AS akan bertanggung jawab atas setiap agresi Israel terhadap Iran. Dalam surat kepada PBB, ia menyatakan bahwa Washington akan dianggap sebagai “peserta” jika serangan terjadi, dan Iran akan mengambil “tindakan khusus” untuk melindungi fasilitas nuklirnya.
Ancaman Balasan dari Iran
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) turut mengeluarkan peringatan keras. Jenderal Ali Mohammad Naeini, juru bicara IRGC, menegaskan bahwa Israel akan menghadapi “respons yang menghancurkan” jika berani menyerang.
“Jika rezim delusional Zionis melakukan hal bodoh dan melancarkan serangan, mereka akan menerima sebuah respons yang menghancurkan dan menentukan di dalam wilayah geografinya yang kecil,” kata Naeini.
Pernyataan ini diperkuat oleh Komandan IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Salami, yang memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan “membuka gerbang neraka” bagi Israel dan AS.
Dampak Global, Harga Minyak Melonjak
Isu serangan terhadap fasilitas nuklir Iran juga memengaruhi pasar global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hampir 2% karena kekhawatiran atas potensi konflik berskala besar di Timur Tengah. Ketidakpastian ini diperparah oleh laporan bahwa perundingan nuklir antara Iran dan AS belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Diplomasi di Ujung Tanduk
Meski ancaman terus mengemuka, Araghchi menunjukkan keterbukaan terhadap jalur diplomatik. Ia menyebutkan bahwa Iran akan berkonsultasi dengan sekutu, termasuk Tiongkok, untuk mencegah eskalasi.
“Kami percaya bahwa akal sehat pada akhirnya akan menang dan mencegah tindakan yang dapat menimbulkan konsekuensi serius,” ujarnya.
