JAKARTA – Iran memperingatkan kemungkinan perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Isreal yang disebut dapat “menghancurkan” ekonomi dunia.
Peringatan itu muncul di tengah pernyataan Presiden AS, Donald Trump pada Rabu (11/3/2026) yang dilansir Hurriyet Daily News, bahwa republik Islam tersebut menghadapi kekalahan yang sudah di depan amata.
Ketegangan meningkat di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut seperlima minyak dunia. Sejak serangan udara AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, harga minyak melonjak dan pasokan global terguncang. Serangan balasan rudal dan drone dari Iran hampir menghentikan pengiriman barang melalui selat tersebut.
Trump menegaskan Iran “hampir berada di ujung jalan,” seraya menyebut angkatan laut dan udara negara itu telah hancur serta pasokan rudal hampir habis. Ia menambahkan pasukan AS mampu memutus listrik Iran “dalam waktu satu jam,” tapi menekankan keengganannya mengambil langkah yang membuat rekonstruksi negara itu “hampir mustahil.”
Sementara itu, Israel menyatakan kampanye militer masih jauh dari selesai. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menyerang “pusat-pusat ekonomi dan bank-bank” terkait kepentingan AS dan Israel, memicu evakuasi staf perusahaan internasional dari Dubai.
Konflik yang memasuki hari ke-12 telah menimbulkan guncangan ekonomi besar. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan serangan ke negara Teluk, tapi Teheran menuduh adanya “penyalahgunaan terang-terangan” mandat PBB.
Serangan drone dan rudal terus meluas ke kawasan, termasuk ke Dubai dan Oman. Lebanon pun terseret ke dalam perang setelah Hizbullah melancarkan serangan ke Israel, dengan korban tewas mencapai lebih dari 630 orang dan ratusan ribu warga mengungsi.
Di tengah eskalasi, tokoh Iran, Yahya Rahim Safavi menyebut Trump sebagai “presiden Amerika yang paling korup dan bodoh” serta “Setan itu sendiri,” menegaskan sikap menantang Teheran terhadap tekanan AS dan Israel.