JAKARTA – Iran dan Amerika Serikat mencapai “kemajuan signifikan” dalam putaran terbaru pembicaraan di Swiss pada Kamis (26/2/2026). Kedua pihak sepakat melanjutkan diskusi pekan depan di Austria, dengan Oman bertindak sebagai fisilitator.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, negosiasi berlangsung di tengah ancaman berulang Presiden AS, Donald Trump untuk menyerang Iran. Trump sebelumnya memberi Teheran tenggat 15 hari untuk mencapai kesepakatan.
Washington menuntut agar pembahasan mencakup program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan, sementara Iran menegaskan fokus hanya pada isu nuklir. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kepada televisi pemerintah bahwa pembicaraan “mengalami kemajuan yang sangat baik dan memasuki unsur-unsur kesepakatan dengan sangat serius, baik di bidang nuklir maupun di bidang sanksi.”
Putaran berikutnya dijadwalkan berlangsung kurang dari sepekan, dengan diskusi teknis di Badan Nuklir PBB dimulai Senin di Wina. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengonfirmasi hal tersebut melalui unggahan di X.
Ketegangan Regional
Negosiasi berlangsung di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah, termasuk pengerahan kapal induk USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln. Kehadiran dua kapal induk sekaligus di kawasan ini disebut jarang terjadi.
Trump dalam pidato kenegaraan menuduh Iran “mengejar ambisi nuklir yang jahat” dan mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa. Kementerian Luar Negeri Iran membantah tuduhan itu sebagai “kebohongan besar”.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa republik Islam tersebut “sama sekali” tidak berupaya memiliki senjata nuklir.
Prospek Kesepakatan
Araghchi menyebut putaran terbaru ini sebagai “yang paling intens sejauh ini”, dengan pemahaman bersama untuk membahas detail terkait pengakhiran sanksi dan langkah nuklir.
Sumber diplomatik menyebut Kepala Badan Nuklir PBB Rafael Grossi ikut serta dalam perundingan. Sementara itu, laporan Wall Street Journal menyebut tim Trump menuntut Iran membongkar tiga situs nuklir utama dan menyerahkan seluruh uranium yang diperkaya kepada AS.