JAKARTA – Iran pada Senin bersumpah akan membalas “dengan ganas” setiap serangan dari Amerika Serikat, menyusul ancaman terbaru Presiden Donald Trump. Retorika keras kedua negara muncul menjelang pembicaraan tidak langsung di Jenewa mengenai program nuklir Iran, yang dijadwalkan Kamis mendatang.
Meski menghadapi tekanan militer AS di Timur Tengah, mahasiswa Iran kembali turun ke jalan dengan protes anti-pemerintah. Aksi ini menghidupkan kembali slogan-slogan demonstrasi nasional Januari lalu yang berujung pada penindakan brutal.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Selasa (24/2/2026), Trump sebelumnya menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terbatas jika kesepakatan nuklir tidak tercapai. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa “serangan apa pun, bahkan yang terbatas, akan dianggap sebagai tindakan agresi.” Juru bicara Esmaeil Baqaei menambahkan, “Dan negara mana pun akan bereaksi terhadap tindakan agresi… dengan ganas, jadi itulah yang akan kami lakukan.”
Iran Siap Negosiasi Lagi
Iran menyebut siap menyerahkan draf proposal kesepakatan kepada mediator, sementara Trump memberi tenggat 15 hari. Washington juga ingin membahas rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan, meski Iran menolak isu di luar nuklir.
Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyebut dimulainya kembali pembicaraan sebagai “peluang baru,” tetapi memperingatkan risiko konflik regional jika serangan terjadi. “Konsekuensi dari agresi yang diperbarui tidak akan terbatas pada satu negara saja,” ujarnya.
Ketegangan ini mendorong sejumlah negara, termasuk India, Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia, menyerukan warganya meninggalkan Iran. Sementara itu, AS memerintahkan evakuasi personel non-darurat dari kedutaannya di Lebanon.
Di Teheran, protes mahasiswa kembali pecah. Video di media sosial menunjukkan pembakaran bendera Iran serta seruan “turunkan republik Islam.” Bentrokan juga terjadi antara kelompok pro-pemerintah dan anti-pemerintah, dengan aksi pembakaran bendera Israel dan AS.
China turut memperingatkan Washington agar tidak memicu konflik baru. “Kami menentang intimidasi sepihak dan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional,” kata Duta Besar Shen Jian dalam konferensi perlucutan senjata di Jenewa.