JAKARTA – Iran pada Jumat berjanji akan memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” kepada Amerika Serikat dan Israel di tengah perang Timur Tengah yang memasuki pekan kedua.
“Angkatan bersenjata kita sangat bertekad untuk memberi musuh pelajaran yang tak terlupakan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dilansir dari Hurriyet Daily News, Jumat (13/3/2026), seraya menolak gagasan gencatan senjata sesaat yang diikuti dengan serangan baru.
Televisi pemerintah Iran melaporkan dimulainya gelombang baru serangan rudal terhadap “wilayah pendudukan”, merujuk pada Israel. Sementara itu, serangan udara sebelumnya mengguncang Iran dan sejumlah negara Teluk, memperburuk ketegangan regional.
Sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 1.200 orang menurut Kementerian Kesehatan Iran, konflik telah meluas ke berbagai negara, memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak.
Ledakan besar dilaporkan terjadi di Teheran, dengan militer Israel mengklaim telah menghantam lebih dari 200 target di Iran barat dan tengah. Dampak perang juga dirasakan di Lebanon, Oman, hingga Dubai, dengan korban sipil terus bertambah.
Di tengah eskalasi, Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menindak keras setiap protes baru terhadap pemerintah. Demonstrasi pro-pemerintah di Teheran dan kota-kota besar digelar bertepatan dengan Hari Quds, dengan slogan anti-AS dan anti-Israel berkumandang.
Harga minyak mentah kini bertahan di atas 100 dolar AS per barel, sementara Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital energi dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar global, dengan analis memperingatkan tekanan berkepanjangan terhadap saham, suku bunga, dan stabilitas ekonomi internasional.