JAKARTA – Iran dilaporkan mengajukan permintaan kepada pemerintah Amerika Serikat agar pembicaraan bilateral yang dijadwalkan berlangsung pekan ini dipindahkan ke dari Istanbul ke Oman, sekaligus mengusulkan perubahan format pertemuan.
Permintaan tersebut muncul di tengah kesepakatan awal Washington dan Teheran untuk menggelar dialog guna meredakan ketegangan yang meningkat, setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman aksi militer terhadap Iran. Ancaman itu sebelumnya dibalas Teheran dengan peringatan akan menyerang kapal dan pangkalan militer AS.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Rabu (4/2/2026), ketegangan kedua negara memang telah berlangsung sejak Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada musim panas lalu. Pasca-serangan tersebut, Washington kembali mengerahkan kelompok tempur angkatan laut ke kawasan Timur Tengah, menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang menelan korban jiwa.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai lokasi penyelenggaraan pertemuan. Namun, media AS Axios sebelumnya melaporkan bahwa pembicaraan direncanakan berlangsung di Istanbul, dengan kehadiran utusan khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi.
Iran Tolak Keterlibatan Negara Kawasan
Laporan terbaru Axios pada 3 Februari menyebutkan bahwa Teheran meminta agar pertemuan tersebut dipindahkan ke Oman. Selain lokasi, Iran juga menolak format pertemuan di Istanbul yang membuka ruang bagi keterlibatan negara-negara kawasan sebagai pengamat, seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Iran menghendaki agar pertemuan yang dijadwalkan pada 6 Februari digelar secara tertutup dan hanya melibatkan perwakilan kedua negara, serupa dengan pembicaraan tahun lalu yang dimediasi oleh Oman. Para pejabat Iran menilai kehadiran aktor regional lain berpotensi memperluas agenda pembahasan di luar isu utama.
Menurut sumber yang sama, Teheran berupaya memastikan bahwa negosiasi tetap berfokus pada program nuklir dan tidak melebar ke isu lain seperti pengembangan rudal balistik serta dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan, yang kerap menjadi perhatian negara-negara lain.
Situasi ini berkembang di tengah insiden keamanan terbaru, ketika sebuah jet tempur AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk Amerika di Timur Tengah pada 3 Februari. Insiden tersebut menambah ketegangan di perairan internasional, menjelang rencana perundingan nuklir.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kepada Fox News bahwa Witkoff tetap dijadwalkan “untuk melakukan pembicaraan dengan pihak Iran pada akhir pekan ini,” meskipun insiden tersebut terjadi.
Penembakan drone itu menjadi bentrokan kedua antara kedua negara di perairan Timur Tengah pada hari yang sama, setelah pasukan Iran dilaporkan berupaya menahan kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz.