JAKARTA – Iran memasuki masa berkabung nasional setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari. Upacara penghormatan publik dijadwalkan berlangsung selama tiga hari mulai 4 Maret di Teheran, sebelum pemakaman di Mashhad pada 6 Maret. Ribuan warga diperkirakan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.
Di tengah suasana duka, Republik Islam itu bersiap menghadapi periode pasca-Khamenei. Sejumlah laporan media menyebut pengganti pemimpin tertinggi akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang. Nama Mojtaba Khamenei, putra almarhum, kembali mencuat sebagai kandidat kuat meski belum pernah menduduki jabatan pemerintahan.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Rabu (4/3/2026), Mojtaba, yang dikenal sebagai sosok tertutup, belum muncul di depan publik sejak serangan 28 Februari. Ia diyakini masih hidup dan bersembunyi di tengah gempuran udara AS dan Israel. Namun wacana penunjukannya menuai kritik karena dianggap berpotensi menciptakan bentuk monarki turun-temurun dalam sistem teokrasi Iran.
Peralihan kepemimpinan ini menjadi yang kedua sejak Revolusi Islam 1979, setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat pada 1989. Kini, pergantian pucuk pimpinan berlangsung di tengah perang yang memasuki hari kelima, dengan serangan udara berulang kali menghantam Teheran, Qom, dan sejumlah kota lain.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa siapa pun yang dipilih Iran sebagai pemimpin tertinggi berikutnya akan menjadi “target untuk dieliminasi.” Sementara itu, televisi pemerintah Iran menayangkan reruntuhan bangunan di ibu kota, memperlihatkan dampak serangan yang terus berlanjut.