JAKARTA – Gelombang serangan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk pada Rabu (11/3/2026) memicu ketegangan regional sekaligus mengguncang pasar energi global.
Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk ladang minyak di Arab Saudi, pangkalan militer AS di Kuwait, serta kota-kota di Israel. Garda Revolusi Iran menyebut serangan itu sebagai yang “paling intens dan terberat,” berlangsung selama tiga jam. Jurnalis AFP melaporkan sirene serangan udara dan ledakan terdengar di Yerusalem, sementara Channel 12 menyebut beberapa orang terluka di Tel Aviv.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan telah menghancurkan 16 kapal penyebar ranjau Iran di dekat Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menegaskan, “Jika karena alasan apa pun ranjau darat ditempatkan, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Konflik yang dipicu serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran pada 28 Februari kini meluas ke Irak, Lebanon, hingga Teluk. Pentagon melaporkan tujuh tentara AS tewas dan sekitar 140 lainnya terluka sejak awal perang. Di Lebanon, serangan udara Israel menewaskan ratusan orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
Dampak perang terasa global. Harga minyak mentah sempat melonjak lima persen sebelum turun setelah laporan rencana pelepasan cadangan minyak dalam jumlah rekor oleh Badan Energi Internasional. Para pemimpin G7 dijadwalkan bertemu melalui konferensi video untuk membahas “situasi energi.”
Di Teheran, Kementerian Kesehatan Iran menyebut lebih dari 1.200 orang tewas dan 10.000 lainnya terluka. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, “Tentu saja kami tidak mencari gencatan senjata. Kami percaya bahwa pelaku agresi harus dihukum.”
Perang ini juga menimbulkan keresahan di berbagai negara. Mesir menaikkan harga bahan bakar hingga 30 persen, membuat warga semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Badan perdagangan PBB memperingatkan lonjakan harga pangan dan energi akan memukul kelompok masyarakat paling rentan di dunia.