JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Iran pada Sabtu (7/3/2026) mengumumkan angkatan lautnya melancarkan gelombang serangan pesawat tak berawak yang menargetkan Israel serta pangkalan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab dan Kuwait.
“Angkatan Laut Iran menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika dan wilayah-wilayah yang diduduki dengan gelombang serangan pesawat tak berawak besar-besaran,” kata militer Iran dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi IRNA, dilansir dari Turkiyetoday. Target serangan disebut mencakup pangkalan Al Minhad di UEA, pangkalan AS di Kuwait, serta “fasilitas strategis” di Israel.
Sejak 28 Februari, Teheran telah meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan-serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada fasilitas sipil, termasuk pelabuhan dan permukiman. Iran menyebut aksi ini sebagai balasan atas kampanye militer AS-Israel yang menewaskan ratusan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer senior.
Di sisi lain, militer Israel melaporkan operasi udara besar-besaran di Teheran. “Lebih dari 80 jet tempur Angkatan Udara Israel… menyelesaikan gelombang serangan tambahan yang menargetkan infrastruktur milik rezim teror Iran,” bunyi pernyataan resmi.
Israel menyebut target serangan mencakup akademi militer Garda Revolusi Iran, pusat komando bawah tanah, fasilitas penyimpanan rudal, dan lokasi peluncuran. Militer menegaskan fasilitas tersebut digunakan untuk operasi militer sehingga dianggap sebagai “sasaran militer yang sah.”
Serangan ini menjadi salah satu yang terbesar sejak perang dimulai pada 28 Februari. Sebelumnya, Israel bersama Amerika Serikat melancarkan operasi udara dengan melibatkan 200 jet tempur, yang disebut sebagai serangan terbesar dalam sejarah Israel.