TEHERAN, IRAN – Iran memperkuat militernya dengan menerima 1.000 drone tempur baru di tengah lonjakan ketegangan dengan Amerika Serikat, saat Presiden Donald Trump mengancam serangan jika Teheran menolak negosiasi ulang program nuklirnya.
Penguatan armada drone ini diumumkan oleh Panglima Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Amir Hatami, sebagai respons strategis terhadap ancaman eksternal. “Sesuai dengan ancaman yang ada, Angkatan Darat mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategisnya untuk pertempuran cepat serta memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap agresor,” kata Hatami, seperti dilansir Tasnim News pada Jumat (30/1/2026).
Menurut laporan Tasnim News, tambahan 1.000 UAV ini dirancang untuk meningkatkan daya operasional empat cabang utama angkatan darat Iran, mencakup kemampuan serangan, pengawasan, dan gangguan elektronik. Drone-drone tersebut dikembangkan secara mandiri oleh para ahli militer Iran bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan, dengan mempertimbangkan ancaman terkini serta pengalaman dari konflik singkat tahun lalu.
“Berdasarkan ancaman yang muncul dan pelajaran yang dipetik dari perang 12 hari yang diberlakukan pada Juni 2025, UAV telah dirancang dalam kategori destruktif, ofensif, pengintaian, dan peperangan elektronik, dengan kemampuan menargetkan sasaran tetap maupun bergerak di seluruh wilayah darat, laut, dan udara,” tulis laporan tersebut.
Ketegangan antara Iran dan AS semakin memanas sejak Teheran menekan aksi protes domestik dengan mematikan akses internet, yang memicu sinyal ambigu dari Trump terkait kemungkinan campur tangan militer. Situasi internal Iran tetap bergolak, sementara Washington sebelumnya terlibat dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025, yang bertujuan menekan program nuklir dan rudal balistik Teheran.
Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa Teheran siap merespons setiap agresi AS dengan tegas dan tanpa batas. Ia membandingkan dengan konflik sebelumnya, ketika pesawat serta rudal AS turut serta dalam serangan udara singkat Israel terhadap Iran.
“Kapal induk AS memiliki kerentanan serius, dan banyak pangkalan Amerika di wilayah Teluk berada dalam jangkauan rudal jarak menengah kami,” ujar Akraminia dalam siaran televisi pemerintah.
Ia menambahkan, “Jika kesalahan perhitungan seperti itu dilakukan oleh Amerika, itu tentu tidak akan terjadi seperti yang dibayangkan Presiden AS Donald Trump — melakukan operasi cepat lalu, dua jam kemudian, mencuit bahwa operasi telah selesai.”
Pengembangan drone ini menandai upaya Iran mempertahankan kedaulatan di tengah sanksi internasional dan tekanan diplomatik, dengan fokus pada teknologi militer swadaya. Analis militer memperkirakan langkah ini dapat mengubah dinamika konflik regional, terutama di Selat Hormuz dan Teluk Persia, wilayah di mana aset militer AS kerap beroperasi.