TEHERAN, IRAN – Iran kembali menegaskan kesiapan militernya dengan mengumumkan peningkatan signifikan anggaran pertahanan untuk menghadapi potensi konflik jangka panjang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Langkah ini mencerminkan strategi Teheran untuk memperkuat posisinya di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah.
Menurut laporan resmi, anggaran militer Iran untuk tahun ini meningkat drastis, dengan fokus pada pengembangan teknologi pertahanan mutakhir dan peningkatan kapasitas angkatan bersenjata. Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Jenderal Hossein Salami, menegaskan kesiapan negara itu untuk menghadapi ancaman dari musuh.
“Kami telah menyiapkan diri untuk perang selama 10 tahun melawan AS dan Israel. Iran tidak akan mundur dari ancaman apa pun,” ujar Salami dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari laporan media lokal, Selasa (15/7/2025).
Peningkatan Anggaran untuk Modernisasi Militer
Peningkatan belanja militer ini mencakup pengembangan rudal balistik, drone canggih, dan sistem pertahanan udara. Iran juga dikabarkan mempercepat program nuklirnya sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi tawar di panggung internasional. Langkah ini diambil di tengah sanksi ekonomi ketat dari AS dan sekutunya, yang terus membatasi akses Iran ke pasar global.
Analis pertahanan global menilai langkah Iran ini sebagai respons terhadap manuver militer AS dan Israel di kawasan, termasuk latihan militer bersama dan penempatan kapal perang di Teluk Persia. “Iran ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu melawan dalam skenario konflik berkepanjangan,” kata Dr. Reza Ghaffari, pakar hubungan internasional dari Universitas Teheran.
Ketegangan yang Memanas
Hubungan Iran dengan AS dan Israel semakin tegang sejak pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, pada 2020, yang dituding dilakukan oleh Israel. Selain itu, serangan siber dan sabotase terhadap fasilitas nuklir Iran semakin memperburuk situasi. Di sisi lain, AS terus memperketat sanksi ekonomi, yang disebut Iran sebagai “perang ekonomi”.
“Iran tidak akan tinggal diam menghadapi agresi. Kami siap mempertahankan kedaulatan kami dengan segala cara,” tegas Salami.
Dampak Global dan Regional
Peningkatan anggaran militer Iran memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang juga meningkatkan investasi pertahanan mereka. Situasi ini berpotensi memicu perlombaan senjata di kawasan yang sudah labil.
Sementara itu, komunitas internasional mendesak dialog untuk meredakan ketegangan. PBB dan Uni Eropa berulang kali menyerukan kembalinya negosiasi terkait kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), yang kini nyaris mati suri.
Apa Arti Ini untuk Masa Depan?
Langkah Iran ini menunjukkan tekad kuat untuk mempertahankan posisinya sebagai kekuatan regional, meski dihadapkan pada tekanan ekonomi dan militer. Dengan anggaran militer yang terus membengkak, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Teheran, Washington, dan Tel Aviv dalam dinamika geopolitik yang kian rumit.