TEHERAN, IRAN – Di tengah gempuran serangan udara yang terus dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, Iran menyatakan kesiapannya untuk bertempur dalam jangka waktu panjang. Strategi Teheran kini tidak lagi sekadar bertahan, tetapi beralih pada taktik perang asimetris yang dirancang untuk menguras kekuatan lawan.
Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa negaranya telah mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan yang berbeda karakter dengan perang kilat ala Amerika Serikat.
“Kami akan membela diri, apa pun risikonya,” ujar Larijani, mengulang pernyataan yang kerap disampaikan petinggi Republik Islam lainnya sejak konflik militer pecah pada 28 Februari lalu .
Pernyataan itu muncul setelah gelombang pertama serangan AS-Israel yang menewaskan puluhan pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Meski mengalami pukulan telak, rezim teokrasi di Teheran tetap bertahan dan justru melantik Mojtaba Khamenei sebagai pengganti pada 8 Maret lalu .
Strategi Baru: ‘Mosaic Defense’ dan Perang Atrisi
Alih-alih runtuh, Iran justru mengaktifkan doktrin militer baru yang disebut *mosaic defense*—struktur komando terdesentralisasi yang memungkinkan setiap komandan daerah melanjutkan pertempuran meskipun pimpinan pusat lumpuh .
“Doktrin ini dirancang untuk bertahan hidup,” kata seorang analis intelijen Barat yang memantau perkembangan militer Iran.
Fawaz Gerges, profesor hubungan internasional di London School of Economics, menilai langkah Teheran sudah direncanakan matang.
“Iran akan mencoba memperpanjang perang dan sedang mengulur waktu. Kepemimpinan Iran telah memiliki waktu untuk merencanakan dan mengoordinasikan tindakannya. Saya pikir mereka sedang mempersiapkan perang yang panjang,” ujarnya .
Tujuan utama rezim ini, menurut Gerges, adalah ketahanan—kemampuan untuk bertahan, menyerap pukulan, dan terus berjuang.
Produksi Massal: 10.000 Drone per Bulan
Salah satu andalan Iran dalam perang panjang ini adalah kemampuan produksi drone yang luar biasa. Berdasarkan dokumen yang bocor, Iran mampu memproduksi sekitar 5.000 hingga 10.000 drone setiap bulannya .
Drone Shahed, yang menjadi andalan, dapat diproduksi hanya dengan biaya beberapa ribu dolar per unit—sekitar US$35.000 . Bandingkan dengan rudal pencegat Patriot buatan AS yang harganya mencapai US$3 juta (sekitar Rp48 miliar) per unit, atau rudal THAAD seharga US$15 juta yang membutuhkan waktu tahunan untuk diproduksi ulang .
Ketimpangan biaya ini menjadi senjata strategis Iran. Setiap drone murah yang diluncurkan memaksa lawan mengeluarkan rudal pencegat puluhan hingga ratusan kali lebih mahal. Militer AS bahkan harus menembakkan dua rudal atau lebih untuk menjatuhkan satu drone .
Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, mengungkapkan bahwa Iran telah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone sepanjang konflik . Namun serangan terus berlanjut. Pada 8-9 Maret lalu, laporan media Israel mengakui adanya serangan “signifikan” di sejumlah kota, termasuk Tel Aviv .
Kehabisan Rudal atau Mengulur Waktu?
Pertanyaan besarnya, berapa lama Iran mampu mempertahankan intensitas serangan?
Pada awal perang, militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik . Analis lain menyebut angkanya bisa mencapai 6.000 . Namun setelah dua pekan gempuran dan serangan balasan, stok tersebut dipastikan berkurang drastis.
Citra satelit menunjukkan sejumlah fasilitas penyimpanan rudal di Kermanshah, Karaj, Khorramabad, dan Tabriz utara hancur. Pintu masuk terowongan bawah tanah dilaporkan runtuh akibat serangan .
Meski begitu, Israel mengakui bahwa Iran masih memiliki kapasitas meluncurkan rudal yang substansial. Letnan Kolonel Nadav Shoshani, juru bicara militer Israel, mengungkapkan tantangan baru.
“Kadang Anda bahkan tidak membutuhkan rentetan rudal. Jumlah rudal bisa hanya satu atau dua. Karena mereka ingin mempertahankan siklus yang memaksa warga sipil Israel berlindung. Mereka tahu kami punya sirene, punya tempat perlindungan. Mereka mencoba menciptakan kepanikan,” jelasnya .
Dr. Hamidreza Azizi, peneliti di German Institute for Strategic and International Studies, melihat pola yang lebih strategis.
“Semua yang mereka lakukan—mengganggu pelayaran di Selat Hormuz hingga menyerang infrastruktur energi di sekitar Teluk Persia—bertujuan untuk mengubah perhitungan AS,” katanya .
Darah Sipil dan Tekanan Internasional
Di balik strategi militer, harga mahal dibayar warga sipil. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat sedikitnya 1.245 warga sipil tewas dan lebih dari 12.000 luka-luka hingga 10 Maret .
Insiden paling tragis terjadi di Kota Minab, selatan Iran. Sebuah sekolah dasar perempuan hancur pada hari pertama konflik, menewaskan 168 anak—mayoritas berusia 7 hingga 12 tahun—beserta guru-guru mereka .
Senator Amerika Serikat, Jeanne Shaheen, bersama 40 koleganya mendesak Departemen Pertahanan AS untuk menyelidiki insiden tersebut.
“Hasil serangan sekolah ini mengerikan. Baik AS maupun Israel belum bertanggung jawab atas serangan ini,” tulis para senator dalam surat kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth .
PBB menyebut insiden itu “sangat mengejutkan” dan menyerukan penyelidikan. Sementara itu, militer Israel membantah menyerang sekolah di Minab, dan AS menyatakan akan menyelidiki .
Senjata Baru Menanti
Meski mengalami kerugian, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengancam akan menggunakan senjata canggih yang belum pernah digunakan. Jenderal Ali Mohammad Naeini dalam pernyataannya mengatakan musuh Iran bisa menghadapi serangan intensif pada gelombang operasi militer berikutnya .
“Iran bersiap dan siap menggunakan senjata baru. Teknologi ini belum banyak digunakan,” kata Naeini .
Para analis memperingatkan bahwa perang masih jauh dari kata usai. AS dan Israel mungkin unggul di udara, tetapi Iran bermain di dimensi yang berbeda: perang ekonomi, perang atrisi, dan perang psikologis.
“Tidak ada yang mengira Iran mampu menahan kekuatan udara AS yang bersekutu dengan Israel,” kata analis geopolitik Patricia Marins. “Pengeboman AS akan terus berlanjut dan semakin menghancurkan, tetapi tidak akan menyelesaikan apa pun. Waktu justru bekerja melawan mereka—begitu juga pasar dan inflasi bahan bakar di AS” .