JAKARTA — Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur strategis Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, dengan pengecualian bagi pihak yang dianggap sebagai “musuh”.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh perwakilan tetap Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), Ali Mousavi, yang menekankan bahwa kapal-kapal dapat melintas dengan mekanisme koordinasi dengan otoritas di Teheran.
“Kapal-kapal dapat melewati Selat Hormuz dengan berkoordinasi dengan Teheran. Selat tersebut terbuka untuk semua orang kecuali musuh,” kata Mousavi seperti dikutip oleh stasiun televisi Al-Alam, dilansir Sputnik, Minggu (22/3/2026).
Ia juga menegaskan kesiapan Iran untuk bekerja sama dengan komunitas internasional dalam menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
“Iran siap bekerja sama dengan Organisasi Maritim Internasional dan negara-negara lain untuk meningkatkan keselamatan navigasi dan melindungi awak kapal,” kata Mousavi seperti dikutip oleh stasiun televisi Al-Alam.
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Iran menyatakan tetap mengedepankan jalur diplomasi, namun menuntut penghentian agresi sebagai prasyarat utama.
“Tindakan Washington dan Tel Aviv telah menyebabkan situasi saat ini di Selat Hormuz,” kata Mousavi.
Ketegangan meningkat setelah serangan pada 28 Februari yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran global. Pengiriman energi melalui Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia—dilaporkan sempat terhenti, memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.