TEHERAN, IRAN – Iran tetap melanjutkan program nuklirnya meski mendapat tekanan kuat dari Amerika Serikat, bahkan ancaman serangan militer. Langkah Teheran ini memicu ketegangan global karena dianggap kontroversial, tapi mereka menyebutnya sebagai hak berdaulat.
Menurut laporan terbaru, Iran menegaskan bahwa pengembangan nuklirnya bertujuan untuk keperluan damai, seperti energi dan penelitian medis. Namun, AS dan sekutunya memandang program ini sebagai ancaman keamanan global.
Ketegangan meningkat setelah serangkaian sanksi ekonomi dan serangan udara yang diduga dilakukan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
“Kami tidak akan pernah menghentikan kemajuan ilmiah dan teknologi kami,” tegas Presiden Iran dalam pernyataan resmi, menurut kantor berita IRNA.
“Program nuklir adalah hak kami sebagai negara berdaulat, dan kami tidak akan tunduk pada tekanan asing.”
Latar Belakang Ketegangan
Konflik ini berakar dari ketidaksepakatan seputar kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), yang mulai runtuh setelah AS menarik diri pada 2018. Sejak itu, Iran meningkatkan pengayaan uranium hingga level yang mendekati kebutuhan senjata nuklir, memicu kekhawatiran internasional.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa stok uranium Iran kini jauh melebihi batas yang diizinkan dalam kesepakatan.
AS, di sisi lain, terus menekan Iran melalui sanksi ekonomi yang melumpuhkan.
“Iran harus menghentikan aktivitas nuklirnya yang tidak sesuai dengan komitmen internasional,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, menegaskan posisi Washington.
Alasan Iran Bertahan
Iran berdalih bahwa program nuklirnya adalah respons terhadap ancaman eksternal dan kebutuhan energi domestik. Negara ini juga menuding AS dan Israel melakukan sabotase terhadap fasilitas nuklirnya, termasuk serangan siber dan pembunuhan ilmuwan nuklir. “Kami dipaksa untuk mandiri karena dunia tidak adil kepada kami,” ujar seorang pejabat senior Iran, yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, Iran menilai program nuklir sebagai alat diplomasi untuk menegosiasikan keringanan sanksi. Dengan ekonomi yang terpukul akibat embargo, Teheran berharap dapat memanfaatkan posisi tawar ini untuk meraih keuntungan geopolitik.
Dampak Global
Eskalasi ini memicu kekhawatiran akan konflik militer yang lebih luas di Timur Tengah. Negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi dan Israel, menyatakan kesiapan menghadapi potensi ancaman dari Iran.
Sementara itu, Rusia dan China, sekutu Teheran, menyerukan dialog untuk meredakan ketegangan.
Pengamat internasional memperingatkan bahwa situasi ini dapat mengganggu stabilitas pasar energi global, mengingat Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar.
Kenaikan harga minyak dunia telah tercatat seiring meningkatnya ketidakpastian di kawasan.
Langkah ke Depan
Komunitas internasional mendesak diadakannya pembicaraan diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Uni Eropa berupaya menghidupkan kembali negosiasi JCPOA, meski peluang keberhasilannya terlihat tipis.
Sementara itu, Iran menegaskan hanya akan bernegosiasi jika sanksi dicabut terlebih dahulu.