TEHERAN, IRAN – Garda Revolusi Iran (IRGC) secara terbuka menantang Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengirimkan kapal perang mengawal tanker minyak yang melintas di jalur strategis tersebut. Tantangan ini disampaikan Jumat (6/3/2026) di tengah eskalasi konflik yang memicu lonjakan harga minyak global.
Juru bicara IRGC, Alimohammad Naini, menyatakan pihaknya justru menyambut rencana pengawalan yang diumumkan Trump beberapa hari sebelumnya. “Iran sepenuh hati mendukung pengawalan tanker minyak, dan pasukan AS akan hadir untuk melintas di Selat Hormuz. Kami, omong-omong, menunggu kedatangan mereka,” ujar Naini seperti dilaporkan media pemerintah Iran, Jumat (6/3/2026).
Pernyataan provokatif ini muncul di tengah gejolak pasar minyak global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak mendekati US$93 per barel pada Jumat, mencerminkan kenaikan lebih dari 34 persen dalam sebulan terakhir akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Kronologi Krisis Selat Hormuz
Ketegangan bermula dari serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sebagai pembalasan, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz—jalur laut vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—serta mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintas.
Dampaknya sudah terlihat: sedikitnya sembilan kapal dilaporkan diserang dan sekitar 150 kapal terjebak di kawasan tersebut sejak pengumuman penutupan jalur laut.
Menanggapi situasi ini, Trump melalui platform Truth Social pada 2 Maret menyatakan Angkatan Laut AS akan mulai mengawal tanki “sesegera mungkin” dan menjamin “ALIRAN BEBAS ENERGI ke DUNIA”. Pemerintah AS juga menawarkan jaminan asuransi melalui US International Development Finance Corporation untuk menjaga arus perdagangan di Teluk Persia.
Ancaman Harga Minyak Tembus US$100
Para analis memperingatkan harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika gangguan berlanjut. Lembaga konsultan energi Wood Mackenzie menyebut penutupan selat mengancam 15 persen pasokan minyak global dan 20 persen pasokan LNG dunia.
Goldman Sachs mencatat premi risiko perang sebesar US$18 per barel telah terserap dalam harga minyak saat ini, sementara Citigroup memproyeksikan Brent akan bertahan di kisaran US$80-90 dalam skenario dasar. JPMorgan memperkirakan ekspor minyak melalui selat merosot tajam dari 16 juta barel per hari menjadi hanya sekitar 4 juta barel.
Bernstein bahkan merevisi proyeksi harga minyak 2026 dari US$65 menjadi US$80 per barel, dengan peringatan harga bisa melonjak hingga US$120-150 jika konflik berkepanjangan.
Sinyal Kontradiktif dari Teheran
Situasi semakin kompleks setelah Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, pada hari yang sama justru membantah adanya penutupan selat. “Kami belum menutup Selat Hormuz. Jika kami akan menutupnya, kami akan mengumumkannya,” tegas Khatibzadeh.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim IRGC sehari sebelumnya yang menyebut selat berada di bawah “kendali penuh Republik Islam”.
Ketidakpastian ini menambah volatilitas pasar, sementara Qatar memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah bisa “meruntuhkan ekonomi dunia” dan memprediksi semua eksportir energi Teluk akan menghentikan produksi dalam hitungan minggu jika konflik meluas.