JAKARTA – Eskalasi ketegangan di Laut Mediterania mencapai puncak baru ketika pasukan Israel diduga melancarkan serangan drone terhadap armada bantuan internasional yang menuju Gaza.
Insiden mencekam ini, yang terjadi di perairan internasional dekat pantai Yunani, melibatkan 13 serangan terhadap 10 kapal, merusak tiga di antaranya, dan menggagalkan misi pengiriman bantuan kritis ke wilayah yang dilanda kelaparan.
Menurut laporan dari penyelenggara Global Sumud Flotilla, serangan berlangsung pada Selasa malam (23/9/2025) sekitar pukul 01:43 GMT. Armada yang terdiri dari 51 kapal—kebanyakan berpangkal di lepas pantai Kreta, Yunani—sedang dalam perjalanan dari Barcelona untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza.
Aktivis di atas kapal melaporkan ledakan dahsyat, benda tak dikenal yang jatuh ke dek, serta gangguan komunikasi disertai suara musik keras yang memekakkan telinga.
Franek Sterczewski, anggota parlemen Polandia yang ikut dalam flotilla, membagikan pengalamannya di platform X.
“Ada 13 serangan terhadap total 10 kapal, termasuk kapal yang saya tumpangi, dengan tiga kapal rusak,” tulisnya.
Ia menyoroti kerentanan kru yang terdiri dari relawan global, termasuk aktivis lingkungan terkenal seperti Greta Thunberg yang bergabung di Tunisia.
Yasemin Acar, aktivis hak asasi manusia asal Jerman yang berada di salah satu kapal, merekam video di Instagram yang kini viral. Dalam rekamannya, ia menegaskan:
“We only carry humanitarian aid. We don’t have weapons. We don’t threaten anyone. Israel is the one killing thousands (and) making the entire population starve.”
Video tersebut menampilkan hingga 15–16 drone yang terlihat melayang, diikuti ledakan yang terekam dari kapal *Spectre*.
Latar belakang misi ini tak lepas dari konflik berkepanjangan di Gaza. Israel, yang telah memblokir dua upaya serupa pada Juni dan Juli lalu, secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap flotilla ini pada Senin (22/9/2025).
Pernyataan resmi dari pemerintah Israel menekankan bahwa armada tersebut tidak akan diizinkan memasuki perairan Palestina, di tengah tekanan internasional yang kian membesar untuk menghentikan operasi militer di Gaza City yang telah memicu krisis pangan akut.
Otoritas Yunani merespons cepat pasca-insiden. Penjaga Pantai Yunani menerima laporan setelah pukul 02:30 waktu setempat (23:30 GMT) dan mengerahkan kapal patroli Frontex ke lokasi. Namun, juru bicara Frontex menyatakan keraguan atas kejadian tersebut:
“The sailing vessel was fine. There was no damage. Those on board mentioned the incident, but it has not been confirmed whether it actually occurred.”
Markas besar Frontex di Warsawa juga belum memberikan konfirmasi akhir, sementara lokasi kejadian diduga berada di perairan internasional, menimbulkan pertanyaan hukum mengenai yurisdiksi.
Global Sumud Flotilla, koalisi aktivis pro-Palestina, merilis pernyataan resmi yang menggambarkan kekacauan di kapal:
“Some drones, unknown objects dropped, communication cut off, and explosions heard from several ships.”
Pernyataan tersebut menekankan bahwa serangan ini bukan hanya ancaman fisik, tapi juga upaya sistematis untuk menghalangi bantuan kemanusiaan.
Insiden ini menambah babak gelap dalam krisis Gaza, di mana blokade Israel telah menyebabkan kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah. Dengan lebih dari 51 kapal yang siap bergabung, misi ini bertujuan mengirimkan tonase bantuan esensial seperti makanan, obat, dan peralatan medis.
Namun, serangan drone ini yang diduga melibatkan teknologi canggih Israel mengancam kelangsungan upaya global tersebut.
Komunitas internasional kini menunggu investigasi lebih lanjut dari PBB dan otoritas Eropa. Sementara itu, aktivis seperti Acar dan Sterczewski terus menyuarakan seruan darurat, menyerukan solidaritas dunia untuk menekan Israel agar membuka akses bantuan.
