TEL AVIV, ISRAEL – Pemerintah Israel mengaku membutuhkan 15 ton bom untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang terletak di lokasi bawah tanah sangat terfortifikasi. Senjata dengan daya ledak sebesar itu hanya dimiliki oleh Amerika Serikat menurut sumber intelijen Israel.
Dalam laporan The Jerusalem Post disebutkan bahwa fasilitas nuklir Iran seperti Natanz dan Fordow dilindungi oleh lapisan beton tebal dan sistem pertahanan canggih.
“Bom seberat 15 ton diperlukan untuk menembus bunker-bunker Iran yang diperkuat,” ujar seorang pejabat senior Israel dikutip dari The Jerusalem Post.
Perseteruan antara Israel dan Iran telah berlangsung selama beberapa dekade. Israel menilai program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial sementara Teheran menegaskan bahwa program tersebut hanya untuk tujuan damai.
Menurut sumber intelijen Israel, hanya bom bunker buster seperti GBU-57 Massive Ordnance Penetrator milik AS yang mampu menembus pertahanan fasilitas nuklir Iran.
“Hanya bom bunker buster seperti GBU-57 Massive Ordnance Penetrator milik AS yang mampu menembus pertahanan ini,” kata sumber tersebut.
Ketergantungan Israel pada dukungan militer AS menjadi sorotan. Senjata GBU-57 yang dikenal sebagai penghancur bunker hanya dimiliki oleh Angkatan Udara Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah Washington akan bersedia memasok senjata tersebut kepada Israel.
“Israel tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi bom sebesar ini secara mandiri. Jika Israel ingin menyerang fasilitas nuklir Iran kerja sama dengan AS akan menjadi kunci,” ujar seorang analis militer di Tel Aviv yang enggan disebutkan namanya.
Pernyataan Israel ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan. Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas nuklirnya akan memicu respons yang tak terbayangkan.
Komunitas internasional termasuk PBB terus mendorong dialog diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Analis politik menilai pernyataan Israel ini juga sebagai sinyal kepada AS dan sekutunya untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi maupun negosiasi.
“Israel ingin menunjukkan bahwa ancaman nuklir Iran bukan hanya masalah regional tetapi juga global,” kata Dr. Rachel Cohen pakar hubungan internasional dari Universitas Hebrew.
Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan ini. Namun hubungan erat antara AS dan Israel di bidang pertahanan menunjukkan diskusi mengenai potensi kerja sama militer kemungkinan besar sedang berlangsung di balik layar.