TEL AVIV – Militer Israel resmi menggelar operasi militer baru di Jalur Gaza pada Jumat malam (16/5/2025), yang dinamakan Kereta Gideon. Operasi ini disebut-sebut sebagai langkah besar untuk menguasai wilayah strategis di Gaza, namun memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dan dampak kemanusiaan.
Serangan Besar-Besaran untuk Rebut Gaza
Menurut pernyataan resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF), operasi ini melibatkan serangan masif melalui darat, laut, dan udara. “Selama 24 jam terakhir, IDF telah melancarkan serangan besar-besaran dan memobilisasi pasukan untuk merebut daerah-daerah yang dikuasai di Jalur Gaza, sebagai bagian dari langkah pembukaan Operasi ‘Kereta Gideon’ dan perluasan kampanye di Gaza,” ungkap juru bicara IDF.
Tujuan utama operasi ini, menurut Israel, adalah untuk melemahkan kelompok Hamas, membebaskan sandera, dan mengamankan wilayah Gaza. IDF juga memerintahkan warga Gaza tengah dan utara untuk mengungsi ke zona kemanusiaan di selatan, tepatnya koridor Morag, sebagai persiapan operasi skala besar.
Namun, langkah ini menuai kritik keras. Banyak pihak mempertanyakan apakah operasi ini benar-benar bertujuan untuk keamanan atau justru menjadi bagian dari rencana pendudukan jangka panjang. Surat kabar Israel Haaretz bahkan menyebut Kereta Gideon sebagai “kampanye militer yang gagal dan sesat,” yang berpotensi meningkatkan jumlah korban sipil tanpa mencapai tujuan strategis.
Dampak Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
Data dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyebutkan, dalam beberapa hari terakhir, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 370 warga Gaza, angka yang melonjak drastis dibandingkan 78 korban pada tiga hari sebelumnya. Sejak Oktober 2023, konflik di Gaza telah merenggut lebih dari 52.800 jiwa, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Blokade Israel terhadap bantuan kemanusiaan juga memperparah situasi. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa blokade ini telah “merusak secara permanen kehidupan warga Gaza,” dengan risiko kelaparan kian nyata. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengecam rencana Israel, menyebutnya “bertentangan dengan hukum internasional.”
Latar Belakang dan Kontroversi
Operasi Kereta Gideon diumumkan tak lama setelah kunjungan empat hari Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah, meski ia tidak menyambangi Israel. Sejumlah analis menduga operasi ini merupakan respons atas tekanan politik domestik dan internasional, serta keinginan Israel untuk memperkuat posisinya di Gaza pasca-pembebasan sandera AS-Israel, Edan Alexander, oleh Hamas pada 12 Mei 2025.
Namun, rencana ini tak lepas dari sorotan dunia. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang di Gaza. Selain itu, Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).
Apa Selanjutnya untuk Gaza?
Dengan peluncuran Kereta Gideon, dunia kini menyaksikan babak baru konflik Israel-Palestina. Apakah operasi ini akan membawa stabilitas atau justru memperburuk krisis kemanusiaan? Yang jelas, sorotan internasional kian tajam, dengan desakan untuk gencatan senjata dan akses bantuan kemanusiaan yang tak terhambat.
Sementara itu, warga Gaza kembali berada di ujung tanduk, terjebak antara serangan militer dan krisis kemanusiaan yang kian parah. Dunia menanti langkah selanjutnya dari Israel, Hamas, dan komunitas internasional untuk menentukan nasib wilayah yang telah lama dilanda konflik ini.